Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi ANTARA)

Politik

PT Agrinas Pangan Siap-siap Dirujak DPR soal Impor 105 Ribu Pikap India

KAMIS, 26 FEBRUARI 2026 | 20:03 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Impor 105 ribu unit mobil pikap dari India untuk Koperasi Desa Merah Putih ramai diperbincangkan publik. Terlebih, rencana tersebut tidak pernah dibahas bersama DPR.

Anggota Komisi VI DPR Fraksi Demokrat, Herman Khaeron mengungkapkan, Komisi VI sebelumnya sudah beberapa kali menggelar rapat dengan PT Agrinas Pangan Nusantara, termasuk membahas program swasembada pangan dan persiapan Koperasi Desa Merah Putih. 

Namun, dalam sejumlah pertemuan tersebut, tidak pernah ada pembahasan terkait pengadaan sarana transportasi berupa mobil pikap dari India.


“Kami sebetulnya sudah beberapa kali mengundang. Kalau enggak salah dua kali rapat dengan Agrinas ini, terutama dengan Swasembada Pangan, yang kedua dengan persiapan Koperasi Desa Merah Putih. Makanya saya tahu ada alokasi anggaran, yang tidak pernah membicarakan persoalan pengadaan sarana transportasi dari India,” ujar Herman kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.

Sekjen DPP Partai Demokrat ini menegaskan, karena isu ini sudah menjadi perhatian publik, Komisi VI berkewajiban memanggil pihak terkait untuk meminta penjelasan secara terbuka. Dalam hal ini, PT Agrinas Pangan Nusantara selaku penanggung jawab. 

“Kalau sudah menjadi isu publik, Komisi VI ya wajib untuk memanggilnya dan meminta keterangan, minta penjelasan apa yang terjadi,” tegasnya.

Herman juga menegaskan pentingnya mempertimbangkan dampak ekonomi secara menyeluruh, termasuk efek berganda (multiplier effect) dari kebijakan tersebut. Menurutnya, meskipun harga kendaraan impor bisa saja lebih murah, pemerintah tetap harus menghitung dampaknya terhadap industri dalam negeri, pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja.

“Kalau pun toh kemudian bahwa terjadinya penghematan akibat pengadaan mobil dari luar negeri ini, tentu juga harus memperhitungkan multiplier effect-nya,” tegasnya.

“Kalau harganya lebih mahal tetapi multiplier effect-nya akan lebih positif terhadap pertumbuhan ekonomi, terhadap kesejahteraan anak-anak bangsa, terhadap membuka peluang pekerjaan, ya saya kira ini harus diperhitungkan dengan baik,” sambung Herman.

Selain itu, ia juga mempertanyakan skema pembiayaan pengadaan tersebut. Politikus senior Demokrat itu mengaku belum mengetahui secara jelas sumber anggaran, termasuk isu penggunaan dana desa yang diblokir dan pemanfaatan skema pembiayaan komersial.

“Anggarannya mengambil dari mana sementara? Karena setahu saya kan anggaran ini kan memblokir anggaran dana desa gitu ya, dan kemudian menggunakan anggaran komersial. Bunga dan lain sebagainya kan kami tidak tahu berapa persen dengan anggaran komersial ini,” tuturnya.

Atas dasar itu, Komisi VI DPR, lanjut Herman, akan memanggil PT Agrinas Pangan Nusantara untuk memberikan klarifikasi resmi setelah masa reses berakhir pada 9 Maret 2026 mendatang dan DPR kembali memasuki masa sidang.

“Nah, oleh karenanya kita tunggu saja setelah nanti tanggal 9 masa reses selesai, masuk masa sidang, kita akan meminta penjelasan dan keterangan dari Agrinas Pangan terkait dengan impor mobil dari India,” pungkasnya.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Ketua KNPI Merauke Ajak Generasi Muda Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 04:19

Kedaulatan Teknologi Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:55

PKS Desak Pemerintah Bersikap Proporsional Terkait MSCI

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:25

Solusi Kasus Business Judgement Rule Sektor Perumahan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:57

Waka BRIN Pimpin Delegasi RI Perjuangkan Space Economic di Konferensi PBB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:32

Pertamina Didorong Ambil Alih Proyek Migas Mangkrak Demi Genjot Produktivitas

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:12

KPK Endus Ada Kickback Vendor kepada Pejabat BNPB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:59

Presiden PKS Wanti-wanti Bahaya AI sebagai Senjata Fitnah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:34

Masih Atur Waktu, KPK Bantah Ada Kendala dalam Pemanggilan Nusron

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:04

Polri Utamakan Pendekatan Humanis dan Edukatif Selama Operasi Patuh 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:42

Selengkapnya