Berita

Lukisan berjudul "Tangan Terakhir yang Meminta" dalam Galeri Lukisan Denny JA yang berlokasi di Padel District Ciputat pada Kamis, 26 Februari 2026. (Foto: Dokumentasi Denny JA)

Nusantara

Pameran Lukisan Denny JA soal Bencana Sumatera Gugah Nurani

KAMIS, 26 FEBRUARI 2026 | 17:39 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Pameran lukisan bertajuk “Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi” digelar di Galeri Lukisan Denny JA yang berlokasi di Padel District Ciputat pada Kamis, 26 Februari 2026. 

Pameran ini menghadirkan refleksi visual tentang krisis lingkungan yang menggugah nurani.
 
Di galeri yang juga arena lapangan padel ini, lebih dari seratus lukisan karya Denny JA terpajang di dinding-dinding galeri. Di antaranya, terdapat 27 lukisan dalam serial Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi.
 

 
Salah satu karya yang paling mengguncang batin adalah lukisan berjudul "Tangan Terakhir yang Meminta". Lukisan ini menunjukkan seorang anak lelaki terperangkap dalam pusaran air. Tangannya terulur ke langit, bukan sekadar meminta pertolongan. 

Ia seperti menuntut jawaban. Wajahnya bukan hanya wajah ketakutan, melainkan wajah generasi yang lahir dari kesalahan kita sendiri.
 
Di belakangnya, bayangan kota menjulang samar. Di sekelilingnya, puing kayu dan batang pohon mengambang. Air yang menelannya bukan air jernih kehidupan, melainkan lumpur keruh yang menyimpan jejak pembabatan dan kelalaian panjang.
 
Lukisan ini tidak hanya merekam tragedi seorang anak. Ia merekam kegagalan kolektif sebuah peradaban.
 
Bencana di Sumatra bukan sekadar takdir hujan. Ia adalah konsekuensi dari pilihan yang berulang.
 
Denny JA menyebut pendekatan ini sebagai Genre Lukisan Imajinasi Nusantara. Ia bukan sekadar gaya visual, melainkan sebuah sikap estetik dan moral dalam membaca zaman.
 
Genre Lukisan Imajinasi Nusantara yang ia bangun merupakan inovasi seni rupa digital yang memadukan realisme figur manusia, simbol budaya lokal, dan lanskap surealis, dengan bantuan kecerdasan buatan sebagai perangkat kreatif.
 
Namun teknologi di sini bukan pusat perhatian. Ia hanya jembatan. Yang utama tetaplah jiwa, tafsir, dan kegelisahan sosial yang ingin disampaikan.
 
Dalam genre ini, batik tidak hadir sebagai ornamen. Ia menjadi inti narasi visual. Motif yang dikenakan tokoh-tokohnya adalah simbol akar budaya, harmoni, dan spiritualitas lokal yang tetap bertahan di tengah arus modernitas yang keras.
 
Batik menjadi pernyataan bahwa identitas tidak boleh hanyut bersama banjir zaman. Ia menegaskan keberlanjutan memori, bahkan ketika lanskap di sekelilingnya retak.
 
Figur manusianya dilukis secara realistis dan proporsional. Tatapan mata, kerut wajah, posisi tubuh, semuanya mencerminkan emosi yang jujur dan kekuatan ekspresi yang dalam.
 
Manusia dalam lukisan-lukisan ini bukan simbol abstrak. Ia hadir sebagai subjek yang nyata, membawa beban sejarah, trauma, dan harapan.
 
Namun di belakang figur yang realistis itu, terbentang lanskap surealis. Latar belakangnya sering menyerupai dunia mimpi atau ruang batin yang terdistorsi. Air menjadi pusaran yang tak wajar. Langit terasa terlalu berat. Kota hadir sebagai siluet yang jauh dan tak peduli.
 
Surealisme di sini bukan permainan estetika, melainkan refleksi batin zaman dan dinamika sosial-politik yang mengguncang.
 
Imajinasi Nusantara lahir dari kontemplasi budaya tropis yang bertemu dengan teknologi digital.
 
Kecerdasan buatan digunakan untuk memperluas kemungkinan visual, mengeksplorasi tema-tema modern yang kompleks, dari trauma kolektif hingga era algoritma dan relasi manusia dengan gawai yang semakin intim.
 
Seperti tergambar dalam refleksi sebelumnya tentang kedekatan manusia dengan telepon genggam, teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan lingkungan hidup baru yang membentuk kesadaran.
 
Melalui pendekatan ini, karya-karya dalam genre Imajinasi Nusantara berupaya menangkap luka kolektif dengan kejujuran visual.
 
Ia juga secara halus menggugat estetika kolonial yang selama ini menempatkan simbol lokal sebagai pinggiran.
 
Dalam lukisan-lukisan ini, simbol Nusantara berdiri di pusat kanvas, sarat makna, dan berbicara dengan percaya diri.
 
Dengan demikian, Imajinasi Nusantara bukan sekadar teknik atau gaya. Ia adalah upaya membangun bahasa visual yang berakar pada identitas lokal, namun terbuka pada teknologi dan pergulatan global.
 
Ia menjadikan kanvas sebagai ruang dialog antara tradisi dan masa depan, antara ingatan dan kemungkinan, antara luka dan harapan.

Potret Bencana
 

Melalui 27 karya dalam serial ini, Denny JA memotret banjir, tanah longsor, hutan gundul, anak-anak yang duduk di atap rumah, ibu yang memeluk foto keluarga, ayah yang memanggul nenek tua di tengah air coklat.
 
Figur manusia digambarkan realistis, emosinya presisi, kerut wajahnya detail, air matanya jujur.
 
Namun lingkungannya selalu membawa unsur hiperbolik. Langit terasa terlalu berat. Air tampak terlalu luas. Akar pohon menyerupai luka terbuka. Seolah alam sendiri menjadi saksi sekaligus korban.
 
Kritikus seni rupa senior Agus Dermawan T menyebut Denny JA sebagai pelukis Indonesia pertama yang secara sadar memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membangun genre lukisannya sendiri.
 
Dalam sejarah seni Indonesia, teknologi selalu hadir, dari fotografi hingga digital printing. Namun Denny JA menjadikan kecerdasan buatan sebagai alat konseptual, bukan sekadar teknis.
 
Ia memanfaatkannya untuk membangun imajinasi kolektif tentang Nusantara yang terluka.
 
Ia tidak sekadar menciptakan gambar. Ia membangun karakter dan lanskap moral.
 
Dalam karya lain yang sempat mengundang diskusi luas, Denny JA menggambarkan Paus mencuci kaki rakyat Indonesia di ruang publik. Bukan di altar, melainkan di jalan raya.
 
Karya tersebut menjadi viral beriringan dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta.  Di pinggir jalan, mobil Paus berhenti. Paus membuka kaca mobil dan memberkati lukisan Denny JA itu. Peristiwa langka ini menjadi berita viral saat itu,
 
Lukisan itu memindahkan simbol agama ke ruang sosial dan menempatkan spiritualitas di tengah kehidupan sehari-hari. Sebagaimana serial Sumatra Menangis, karya tersebut bukan dokumentasi, melainkan tafsir sosial.

Dalam konteks global, pendekatan Denny JA mengingatkan pada Francisco Goya yang melukis kengerian perang, Edvard Munch yang memvisualkan kecemasan eksistensial, serta Frida Kahlo yang menjadikan tubuhnya kanvas penderitaan kolektif.
 
Perbedaannya terletak pada keberanian menggabungkan realisme manusia Indonesia dengan lanskap ekologis yang menjadi tokoh dramatis utama.
 
Ia tidak melukis perang antar manusia. Ia melukis perang manusia melawan keserakahannya sendiri.
 
Ia menempatkan alam bukan sebagai latar, tetapi sebagai subjek yang bersuara.
 
Refleksi Ramadan

Dalam suasana Ramadan, pameran ini menjadi refleksi spiritual yang mendalam. Ramadan adalah bulan menahan diri, menahan lapar, menahan amarah, menahan ego. Pertanyaannya menjadi lebih luas. Apakah kita juga sanggup menahan kerakusan ekologis.
 
“Tangan Terakhir yang Meminta” menjelma metafora doa dan peringatan sekaligus.
 
Anak itu mengangkat tangan bukan hanya untuk diselamatkan, tetapi untuk mengingatkan. Dalam tradisi Islam, tangan yang terangkat adalah simbol permohonan. Dalam lukisan ini, ia menjadi simbol tanggung jawab.
 
Sumatra menangis bukan hanya karena hujan. Ia menangis karena kita lupa.
 
Lupa bahwa hutan adalah benteng kehidupan. Lupa bahwa sungai adalah urat nadi peradaban. Lupa bahwa tanah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan ruang hidup generasi.
 
Keistimewaan 27 lukisan ini tidak hanya terletak pada penggunaan teknologi atau kekuatan dramatisnya. Keistimewaannya terletak pada keberanian menjadikan ekologi sebagai pusat narasi seni rupa Indonesia kontemporer.
 
Bencana tidak lagi tampil sebagai dokumentasi jurnalistik. Ia diangkat menjadi refleksi peradaban.
 
Di tangan Denny JA, kecerdasan buatan bukan ancaman bagi seni. Ia menjadi alat untuk memperluas imajinasi moral dan memperdalam empati kolektif.
 
Sumatra dalam serial ini bukan lagi sekadar wilayah geografis. Ia menjadi tokoh utama yang menangis dan bersaksi.
 
Pameran “Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi” berlangsung di Galeri Lukisan Denny JA, Padel District Ciputat, 1-30 Ramadhan 1447 H, pukul 10.00- 24.00 WIB, terbuka gratis untuk umum.
 
Selesai ramadhan serial lukisan Sumatra menangis dan kritik ekologi akan tetap dipajang di sana, mulai jam 6.00 - 24.00,  hingga datang serial lukisan baru.
 
Di balik estetika kanvas, data menunjukkan Sumatra kehilangan jutaan hektare hutan; lukisan ini adalah alarm visual bahwa krisis iklim bukan lagi prediksi masa depan, melainkan luka menganga yang menuntut pertobatan.
 
Di hadapan lukisan itu, kita tidak hanya melihat seorang anak yang hampir tenggelam. Kita melihat diri kita sendiri yang masih berdiri di tepi pusaran.
 
Di ruang hening antara kanvas dan doa, kita menyadari: setiap garis banjir di dinding rumah adalah tanda tangan kita sendiri pada kontrak panjang pengkhianatan terhadap bumi yang mempercayai kita.
 
Kita masih memiliki waktu untuk memilih. Ramadhan datang sebagai kesempatan. Apakah tangan yang terangkat itu benar-benar akan menjadi tangan terakhir.
 
Ataukah kita memilih menjadi tangan yang menjawab sebelum pusaran itu membesar dan menelan sejarah kita sendiri.
 
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World.
 

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

UPDATE

LPDP Perkuat Ekosistem Karier Alumni, Gandeng Danantara dan Industri

Kamis, 26 Februari 2026 | 14:04

RDPU dengan Komisi III DPR, Hotman Paris: Tuntutan Mati ABK Fandi Ramadhan Janggal

Kamis, 26 Februari 2026 | 14:02

Kenaikan PT Bikin Partai di DPR Bisa Berguguran

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:39

KPK Panggil Ketua KPU Lamteng di Kasus Suap Bupati

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:38

DPR Jadwalkan Pemanggilan Dirut LPDP Sebelum Lebaran

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:30

Great Institute: Ancaman Terbesar Israel Bukan Palestina, Tapi Netanyahu

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:22

KPK Panggil Edi Suharto Tersangka Kasus Korupsi Penyaluran Bansos Beras

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:06

IHSG Siang Ini Tergelincir, Nyaris Seluruh Sektor Merana

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:51

Rusia Pertimbangkan Kirim Bantuan BBM ke Kuba

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:29

Partai Buruh Bakal Layangkan Gugatan Jika PT Dinaikkan

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:27

Selengkapnya