Berita

Bendera partai politik peserta Pemilu 2024 di halaman Kantor KPU RI. (Foto: RMOL)

Politik

Kenaikan Ambang Batas Parlemen Menguntungkan Partai Besar

KAMIS, 26 FEBRUARI 2026 | 10:06 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Perdebatan mengenai ambang batas parlemen yang akan digunakan pada Pemilu 2029 kembali mengemuka. 

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai isu ini kian ramai karena ada momentum pembahasan Undang-Undang Pemilu yang mulai dibicarakan pada 2026.

Menurut Adi, saat ini ambang batas parlemen di Indonesia berada di angka 4 persen. Jika dikonversi ke jumlah kursi di DPR RI, angka tersebut setara dengan kurang lebih 19 kursi.


Ia menjelaskan, bagi partai politik yang perolehan suaranya tidak mencapai angka tersebut pada Pemilu 2019 maupun 2024, otomatis tidak lolos ke parlemen. Padahal, menurutnya, tidak sedikit pemilih yang telah memberikan suara kepada partai-partai tersebut.

“Maka itu menjadi salah satu isu politik yang belakangan cukup ramai diperbincangkan,” katanya lewat kanal Youtube miliknya, Kamis, 26 Februari 2026.

Perdebatan kian memanas setelah Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, mengusulkan agar ambang batas parlemen dinaikkan menjadi 7 persen. Usulan itu bukan lagi mempertahankan angka 4 persen seperti saat ini.

Argumen yang disampaikan, kata Adi, kenaikan ambang batas menjadi 7 persen bertujuan menciptakan stabilitas politik. Terlalu banyak partai yang lolos ke parlemen dikhawatirkan dapat memicu gejolak dan menyulitkan konsolidasi dukungan politik secara signifikan.

“Artinya kalau ambang batas parlemen 7 persen, maka yang akan lolos ke parlemen itu mungkin hanya sejumlah partai politik, paling banyak lima atau enam partai politik, tidak sebanyak saat ini,” jelasnya.

Namun, usulan tersebut menuai respons beragam. Salah satunya datang dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang justru menilai ambang batas ideal adalah 0 persen demi menjaga suara rakyat tidak terbuang.

Adi menyoroti bahwa dalam Pemilu 2019 dan 2024 banyak partai yang sebenarnya memperoleh suara, tetapi tidak lolos ke parlemen karena tidak memenuhi ambang batas 4 persen. Akibatnya, suara para pemilih partai tersebut tidak terkonversi menjadi kursi di DPR.

Dengan logika tersebut, Adi melihat kekhawatiran muncul di kalangan partai menengah dan kecil. Jika ambang batas dinaikkan menjadi 7 persen, bukan tidak mungkin semakin banyak partai yang gagal lolos ke parlemen dan semakin besar pula jumlah suara yang terbuang.

Sementara itu, PDI Perjuangan tidak secara eksplisit menyebut angka ambang batas yang ideal. Namun, partai tersebut menyatakan bahwa jumlah partai yang lolos ke DPR sebaiknya berkisar lima hingga enam partai.

“Kalau kita tafsirkan, lima atau enam partai politik yang dianggap layak berada di DPR pusat itu kurang lebih setara dengan 7 persen,” ujar Adi.

Ia menambahkan, bagi partai politik kelas menengah bawah, ambang batas yang tinggi berisiko membuat mereka tersingkir dari parlemen. Sebaliknya, partai-partai besar cenderung mendorong kenaikan ambang batas dengan alasan penyederhanaan sistem kepartaian.

“Untuk partai politik kelas menengah atas ada kecenderungan ingin menaikkan ambang batas parlemen secara signifikan karena tujuan mereka itu ingin menyederhanakan partai politik,” pungkasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya