Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia bersiap merayakan Cap Go Meh 2577 Kongzili yang jatuh pada Selasa, 3 Maret 2026.
Perayaan yang menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek ini diperingati tepat pada hari ke-15 setelah pergantian tahun lunar.
Meski menjadi agenda budaya besar di berbagai daerah, pemerintah memastikan bahwa hari raya ini tidak termasuk dalam daftar hari libur nasional maupun cuti bersama. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri yang ditandatangani pada 19 September 2025, libur nasional untuk tahun baru lunar hanya dialokasikan pada saat Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026 lalu.
Walaupun Selasa (3/3) tetap menjadi hari kerja efektif, kemeriahan festival lampion dan pertunjukan budaya khas Tionghoa diprediksi tetap menarik antusiasme publik di berbagai kota besar di Indonesia.
Makna dan Akar Sejarah
Secara etimologis, istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien. Kata "Cap" berarti sepuluh, "Go" berarti lima, dan "Meh" berarti malam, yang jika digabungkan bermakna "malam ke-15".
Tradisi ini memiliki akar sejarah yang panjang, bermula sejak masa Dinasti Han (206 SM–221 M). Pada era tersebut, perayaan awalnya terbatas di lingkungan istana sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Thai Yi, dewa tertinggi di langit menurut kepercayaan kala itu. Seiring berakhirnya Dinasti Han, tradisi ini menyebar ke masyarakat luas dan bertransformasi menjadi festival rakyat yang identik dengan pemasangan lampion.
Di Indonesia, Cap Go Meh tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi telah menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional yang dilestarikan secara turun-temurun.
Tradisi dan Simbolisme Lampion
Penerangan lampion tetap menjadi elemen sentral dalam perayaan tahun ini. Bagi masyarakat keturunan Tionghoa, lampion bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol keberuntungan dan harapan akan masa depan yang lebih cerah. Menyalakan lampion saat malam ke-15 diyakini sebagai bentuk permohonan agar aspek kehidupan seperti kesehatan, rezeki, dan kesuksesan menjadi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain festival lampion, perayaan di berbagai wilayah Indonesia akan diwarnai dengan pertunjukan Barongsai dan Liong. Kota-kota dengan basis komunitas Tionghoa yang besar seperti Jakarta (Glodok), Bogor, Singkawang, Semarang, hingga Manado, telah menyiapkan agenda khusus untuk menyambut momen ini. Di Bogor, misalnya, Festival Cap Go Meh dijadwalkan berlangsung pada 1-3 Maret 2026 yang akan berdampak pada penutupan sementara Jalan Suryakencana.
Daftar Hari Libur Maret 2026
Meskipun Cap Go Meh tidak termasuk tanggal merah, masyarakat tetap akan mendapatkan sejumlah hari libur pada pertengahan hingga akhir Maret 2026. Berdasarkan kalender resmi, terdapat rentetan hari libur nasional dan cuti bersama yang berkaitan dengan Hari Suci Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah:
Rabu-Kamis, 18-19 Maret 2026: Hari Suci Nyepi (Tahun Baru Saka 1948).
Jumat-Selasa, 20-24 Maret 2026: Rangkaian Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Dengan demikian, para pelaku perjalanan dan masyarakat yang ingin merayakan Cap Go Meh secara khusus diimbau untuk menyesuaikan jadwal kegiatan mereka, mengingat statusnya yang merupakan hari kerja biasa. Pemerintah melalui otoritas terkait juga terus memantau kesiapan infrastruktur, termasuk penambahan armada transportasi untuk mendukung mobilitas masyarakat selama periode bulan Maret yang padat dengan agenda keagamaan ini.