Berita

Alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas. (Instagram/@sasetyaningtyas)

Politik

Penerima Beasiswa Negara Jangan Banyak Gaya

RABU, 25 FEBRUARI 2026 | 10:16 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Media sosial dihebohkan oleh unggahan Dwi Sasetyaningtyas, alumni Institut Teknologi Bandung sekaligus penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), terkait status kewarganegaraan anak keduanya yang resmi menjadi warga negara Inggris.

Dalam salah satu kontennya, Dwi menulis, “Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan paspor kuat WNA.”

Video yang viral tersebut memperlihatkan Dwi tengah membuka paket dari Home Office Inggris. Paket itu berisi surat resmi yang menyatakan anak keduanya telah menjadi warga negara Inggris, lengkap dengan paspor Inggris yang diterbitkan bersamaan.


Unggahan tersebut memicu reaksi luas dari publik. Banyak yang menilai pernyataan itu tidak sensitif, mengingat Dwi merupakan penerima beasiswa negara yang bersumber dari dana publik.

Pengamat politik Adi Prayitno menilai kemarahan publik bukan semata karena Dwi membanggakan status kewarganegaraan anaknya, melainkan karena konteksnya sebagai penerima beasiswa negara.

“Publik tahu beasiswa negara itu pasti adalah uang negara yang diambil dari pajak rakyat Indonesia, diberikan kepada mereka yang dinilai punya kapasitas, punya kompetensi dan kepantasan karena sudah memenuhi persyaratannya luar biasa untuk bisa sekolah di luar negeri,” ujar Adi lewat kanal Youtube miliknya, Rabu, 25 Februari 2026.

Menurutnya, yang membuat publik tersinggung adalah kesan seolah-olah tidak bangga menjadi warga negara Indonesia, sementara kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri diperoleh melalui pembiayaan negara.

“Orang jadi marah bukan karena Tyas ini membanggakan anaknya menjadi WNA sambil seolah-olah merasa tidak bangga menjadi orang Indonesia. Tapi Tyas, apapun judulnya, bersama suaminya itu bisa ke luar negeri dan mungkin menganggap luar negeri jauh lebih hebat dari Indonesia karena beasiswa yang telah diberikan oleh bangsa ini,” jelasnya.

Direktur Parameter Politik Indonesia itu menilai wajar jika banyak pihak menganggap sikap tersebut sebagai bentuk ketidakberterima kasih.

Ia menekankan, penerima beasiswa negara semestinya mampu menahan diri serta menunjukkan kontribusi nyata bagi Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan.

“Artinya mereka harus bisa menahan diri dan yang paling penting tentu adalah semacam kontribusi apa yang kira-kira bisa diberikan oleh mereka setelah sekolah di luar negeri untuk memberi feedback dan masukan termasuk upaya serius untuk memberikan solusi yang terbaik dari masalah yang ada di Indonesia,” paparnya.

Adi juga mengingatkan bahwa sikap kontributif dan positif jauh lebih penting ketimbang gaya hidup atau pernyataan yang berpotensi menyinggung publik.

“Mestinya siapapun kita kalau sekolah di luar negeri menggunakan beasiswa negara tidak perlulah banyak gaya-gaya, tidak perlu menghina-hina, tapi yang mesti ditunjukkan adalah sikap kontributif, sikap yang positif apapun yang mereka dapatkan di dunia internasional,” pungkasnya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya