Berita

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning. (Foto: Situs web Kementerian Luar Negeri China)

Dunia

China Sampaikan Sikap atas Potensi Konflik Iran-AS

RABU, 25 FEBRUARI 2026 | 08:42 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah China buka suara terkait meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, setelah muncul laporan bahwa Washington mempertimbangkan “serangan terbatas” menjelang putaran baru perundingan nuklir.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan Beijing memantau perkembangan tersebut dengan serius. Dalam konferensi pers rutin, ia menegaskan pentingnya pengendalian diri semua pihak.

"Eskalasi ketegangan di Timur Tengah tidak menguntungkan pihak mana pun,” tegasnya, seraya mendorong agar perbedaan diselesaikan melalui dialog, dikutip dari Global Times, Rabu 25 Februari 2026.


Ketegangan meningkat setelah laporan menyebut Presiden AS, Donald Trump, sedang mempertimbangkan opsi serangan terbatas untuk menekan Iran agar menyetujui tuntutan terkait program nuklirnya. Meski demikian, keputusan akhir disebut belum diambil karena Washington masih menunggu proposal terbaru dari Teheran sebelum negosiasi lanjutan di Jenewa.

Di tengah spekulasi tersebut, AS mulai mengambil langkah antisipatif. Departemen Luar Negeri memerintahkan diplomat non-esensial dan keluarga mereka meninggalkan Kedutaan Besar AS di Beirut, Lebanon, sebuah langkah yang kerap dipandang sebagai sinyal potensi eskalasi militer di kawasan.

Militer AS juga memperkuat kehadirannya di Timur Tengah dengan mengerahkan dua kapal induk, yakni USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln, mendekati wilayah sekitar Iran, lengkap dengan dukungan jet tempur dan armada laut tambahan.

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran menggelar latihan militer di wilayah selatan negara itu. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, juga memperingatkan bahwa setiap agresi baru tidak akan berdampak pada satu negara saja, melainkan bisa memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan.

China pun kembali menegaskan bahwa jalur diplomasi adalah satu-satunya cara untuk meredakan situasi dan mencegah konflik terbuka yang berisiko mengguncang stabilitas regional maupun global.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Sempat Kaget, Legislator Golkar Bersyukur Budi Arie Klarifikasi dan Minta Maaf

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:20

KPK Tahan Gatot Heroe Hernanda, Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:10

DPRD Siap Bongkar Oknum Parpol dan Ormas Minta Jatah Proyek SD Rembang

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:05

Netflix Umumkan Pemeran Baru One Piece Season 3, Siap Hidupkan Kisah Battle of Alabasta

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:53

Bank Berwenang Menunda Transaksi Sesuai UU TPPU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:52

Daftar 6 Perusahaan di Kalimantan Disanksi Kemenhut Buntut Karhutla

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:49

Unhan Terbitkan Edaran Penggunaan Hijab bagi Kadet Putri Muslim

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:44

Diduga Terima Mobil hingga Rumah Mewah, Anggota DPRD Kota Bengkulu Diselidiki KPK

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:37

Pertamina Eco RunFest 2026, Hadirkan Tujuh Inisiatif Keberlanjutan Lingkungan

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:27

Lolly Suhenty: Kerja Kehumasan Bawaslu Menjaga Halaman Rumah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:26

Selengkapnya