Berita

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Politik

CELIOS Surati Presiden, Minta Perjanjian Tarif Indonesia-AS Dibatalkan

SELASA, 24 FEBRUARI 2026 | 12:03 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Center of Economic and Law Studies (CELIOS) resmi melayangkan surat keberatan kepada Presiden RI terkait penandatanganan Agreement Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Dalam surat yang dikirim pada Senin, 23 Februari 2026, lembaga riset tersebut menilai kesepakatan dagang strategis dengan AS itu bermasalah secara hukum dan berpotensi merugikan kepentingan nasional.

CELIOS merujuk Pasal 4 dan Pasal 10 UU No 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yang mewajibkan pemerintah berpedoman pada kepentingan nasional, prinsip persamaan kedudukan, serta pengesahan melalui undang-undang.


“Persetujuan terhadap kesepakatan dagang yang berdampak luas dan strategis tersebut merupakan tindakan pemerintahan yang tidak dapat dilepaskan dari kewajiban hukum nasional yang mengaturnya,” tulis CELIOS dalam surat tersebut. 

Mereka menilai, dengan lingkup yang menyentuh perdagangan, investasi, digital, sumber daya alam, ketenagakerjaan, hingga keamanan ekonomi, mustahil proses persetujuan dilepaskan dari transparansi dan pelibatan DPR.

Tak hanya soal prosedur, CELIOS juga mengurai dampak substantif yang dinilai merugikan. Mulai dari kewajiban impor migas dari AS sebesar 15 miliar dolar AS, penghapusan hambatan non-tarif yang berpotensi memicu banjir pangan impor, hingga penghapusan aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang disebut berisiko memicu deindustrialisasi. 

Bahkan, pembelian 50 unit pesawat produksi Boeing ikut dipertanyakan dalam konteks kebutuhan dan kondisi keuangan BUMN penerbangan.

Di sektor digital, CELIOS menyoroti klausul transfer data pribadi ke AS dan larangan penerapan pajak digital terhadap perusahaan teknologi asal Negeri Paman Sam seperti Meta dan Google. 

Ketentuan tersebut dinilai berpotensi melanggar UU Perlindungan Data Pribadi serta menggerus ruang kebijakan fiskal nasional.

Lebih jauh, mereka juga menyinggung adanya klausul yang disebut sebagai “poison pill”, yakni pembatasan kerja sama Indonesia dengan negara lain yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan AS. 

"Perjanjian ART Indonesia-AS membuat stigma musuh perdagangan AS adalah  
musuh Indonesia dan mencederai posisi politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif," kata Celios. 

Mempertimbangkan putusan Mahkamah Agung AS pada 20 Februari 2026 yang menyatakan tarif resiprokal Trump melanggar hukum, CELIOS berpandangan ART tidak lagi memiliki kedudukan sah di mata hukum AS. 

Karena itu, mereka meminta Presiden segera mengakhiri perjanjian kepada Pemerintah AS dan tidak melanjutkan proses negosiasi lanjutan. 

"Presiden Prabowo Subianto diminta segera mengirimkan notifikasi terminasi perjanjian kepada Pemerintah AS," pungkasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya