Berita

Presiden AS, Donald Trump (Foto: POLITICO)

Dunia

Trump Heran Iran Belum Juga Menyerah di Bawah Tekanan AS

SENIN, 23 FEBRUARI 2026 | 14:04 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut penasaran mengapa Iran belum juga menyerah di bawah tekanan maksimal Washington, di tengah kebuntuan perundingan nuklir dan eskalasi pengerahan militer AS di kawasan. 

Hal itu diungkap Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dalam wawancara dengan Fox News, seperti dikutip Senin, 23 Februari 2026. 

Witkoff mengatakan Trump secara langsung mempertanyakan sikap Teheran pada pagi hari sebelum wawancara. 


“Presiden menanyakan hal itu kepada saya pagi ini, dan dia (Trump), saya tidak ingin menggunakan kata itu, frustrasi… karena dia mengerti bahwa dia memiliki banyak alternatif, tetapi dia ingin tahu mengapa mereka (Iran) belum, saya tidak ingin menggunakan kata menyerah, tetapi mengapa mereka belum menyerah,” ujar Witkoff.

Ia menyinggung dominasi kekuatan laut dan armada AS yang telah digelar di kawasan sebagai dasar ekspektasi Gedung Putih. 

“Mengapa, di bawah tekanan seperti ini, dengan kekuatan laut dan angkatan laut yang kita miliki di sana, mereka tidak datang kepada kita dan mengatakan, kami menyatakan bahwa kami tidak ingin menjadi, kami tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan,” ungkapnya. 

Jawaban atas keheranan itu sebelumnya telah disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Di hadapan ratusan warga Azerbaijan Timur, ia menegaskan kapal perang AS tidak akan mengintimidasi Iran. 

"Kapal perang memang berbahaya. Namun yang lebih berbahaya dari kapal perang adalah senjata yang bisa menenggelamkannya ke dasar laut," tegas Khamenei. 

Ia juga menyinggung kegagalan AS meremehkan pemerintahan Iran selama 47 tahun terakhir.

Putaran kedua perundingan nuklir tidak di Geneva belum menghasilkan terobosan. 

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kedua pihak telah menyepakati “guiding principles” menuju kerangka kerja, sementara Gedung Putih menilai kesenjangan masih besar. 

Di tengah situasi tersebut, Trump menetapkan tenggat 10 hingga 15 hari untuk menentukan apakah jalur diplomasi dilanjutkan atau opsi militer yang akan dipilih, mempertegas bahwa krisis ini berada di titik yang kian genting.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Fasilitas Server Diserang, AS-Israel Makin Kewalahan Hadapi Iran

Senin, 16 Maret 2026 | 01:30

Kecelakaan Beruntun di Tol Semarang-Batang Nihil Korban Jiwa

Senin, 16 Maret 2026 | 01:09

Port Visit di Cape Town

Senin, 16 Maret 2026 | 00:50

Program MBG Bisa Lebih Kuat jika Didesain secara Otonom

Senin, 16 Maret 2026 | 00:30

Persib dan Borneo FC Puas Berbagi Poin

Senin, 16 Maret 2026 | 00:01

Liberalisasi Informasi dan Kebutuhan Koordinasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:42

Polri Buka Posko Pengaduan Khusus Kasus Andrie Yunus

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:17

Ketika Jiwa Bangsa Menjawab Arogansi Teknologi

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:14

Teror Air Keras dalam Dialektika Habermasian

Minggu, 15 Maret 2026 | 22:45

Yuddy Chrisnandi: Visi Menteri dan Presiden Harus Selaras

Minggu, 15 Maret 2026 | 22:32

Selengkapnya