Berita

Ilustrasi Khalid bin Walid. (Foto: Istimewa)

Publika

Khalid bin Walid, Jenderal Tak Terkalahkan itu Dipecat

MINGGU, 22 FEBRUARI 2026 | 06:06 WIB

TULISAN edisi Ramadan kali ini giliran sahabat Rasulullah, Khalid bin Walid. Jenderal yang selalu memenangkan peperangan. 

Karena tak pernah kalah, ia dipecat oleh khalifah Umar bin Khattab. Lah, kok bisa? 

Kalau hari ini ada jenderal yang tak pernah perang, pasti trending topic seminggu penuh, baliho lima kilometer, dan mungkin namanya diusulkan jadi nama jalan sebelum wafat. 


Pastinya bukan jenderal yang itu. Kalau jenderal yang ini, beda. Dialah Khalid bin Walid, dijuluki Saifullah, Pedang Allah. Panglima perang abad 7. 

Gelar Saifullah itu diberikan langsung dari Rasulullah. Bukan hasil tim branding, bukan buzzer gurun, tapi lahir dari darah, debu, dan taktik yang bikin musuh pusing tujuh turunan.

Lahir di Mekah dari Bani Makhzum, Khalid awalnya berada di kubu lawan. Di Perang Uhud (625 M), ia memimpin manuver flank yang brilian dan membalik keadaan. 

Strategi kelas dewa. Tahun 629 M, ia masuk Islam. Tak pakai masa orientasi. Langsung terjun di Perang Mu’tah melawan Bizantium: 3.000 Muslim menghadapi sekitar 100.000 pasukan. Tiga panglima gugur. 

Khalid ambil alih komando. Serangan balik cerdas, mundur teratur, pasukan selamat dari kehancuran total. 

Saat itulah Rasulullah menyebutnya Pedang Allah. Pian bayangkan, di zaman tanpa drone, tanpa satelit, tapi taktiknya bikin kekaisaran megap-megap.

Di era Abu Bakr ash-Shiddiq, ia jadi tulang punggung Perang Riddah. Di Buzakha, ia mengalahkan Tulaihah dengan memanfaatkan retaknya solidaritas suku. 

Di Yamama, ia menerobos “Taman Maut” milik Musailimah al-Kazzab. Pasukan terdesak, tapi Khalid memimpin gelombang serangan sampai Musailimah tewas. Arabia kembali utuh. Ini bukan sekadar menang perang; ini menyelamatkan fondasi negara muda yang bisa saja ambruk sebelum dewasa.

Lalu Irak. Menghadapi Sassaniyah (Persia), ia merebut al-Hirah, menang di Walaja dan Ullais lewat jebakan taktis dan serangan mendadak. Ia menyeberangi gurun enam hari tanpa air, menyimpan cadangan di perut unta, logistik level survival ekstrem. 

Di Suriah, ia menaklukkan Ajnadayn (634 M), Fahl, mengepung Damaskus (635 M). Puncaknya di Perang Yarmuk (Agustus 636 M): 30.000–40.000 Muslim menghadapi 150.000–200.000 Bizantium di bawah Heraclius. 

Khalid membagi sayap kiri-kanan, pura-pura mundur, memanfaatkan kabut dan lembah, serangan malam. Enam hari duel strategi. Musuh runtuh di jurang Yarmuk. Suriah, Palestina, Yerusalem terbuka. Kalau ini film, ratingnya 9,9.

Di tengah semua itu, Khalid berkata, “Kemenangan bukan karena aku, tapi karena Allah.” Kalimat yang jarang terdengar di podium kemenangan zaman now.

Lalu datang keputusan yang bikin banyak orang melongo. Umar bin Khattab memecatnya pada 17 H (638 M), menggantikannya dengan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Setelah Yarmuk. Setelah rentetan gemilang. Bukan karena khianat. Bukan karena kalah. Tapi karena tauhid dan disiplin negara.

Umar khawatir umat mulai salah fokus. “Khalid yang membawa kemenangan.” Seolah-olah langit tunduk pada satu manusia. 

Umar ingin menegaskan, Allah-lah yang menolong agama-Nya, dengan atau tanpa Khalid. Sindiran halus bagi siapa pun yang merasa kursinya adalah penentu takdir bangsa. Kursi bisa berganti, misi tetap berjalan.

Ada pula soal administrasi ghanimah. Khalid dituduh terlalu longgar membagi harta kepada pejuang, bangsawan, penyair; sementara Umar memprioritaskan Muhajirin miskin. Diselidiki di Homs, tak ditemukan korupsi. Tapi Umar tetap tegas, negara butuh disiplin. Tegas tanpa dendam, keras tanpa benci.

Lihat respons Khalid. Tidak konferensi pers. Tidak drama. Ia berpidato di Qinnasrin dan Homs, menerima keputusan itu dengan ikhlas, lalu bertempur sebagai prajurit biasa. 

Ente bayangkan, panglima tak terkalahkan turun pangkat tanpa menggerutu. Di zaman ketika sedikit saja jabatan bergeser orang bisa menuduh semesta berkonspirasi.

Khalid wafat pada 21 H (642 M), karena sakit, di Homs atau Madinah (riwayat berbeda). Ia meninggal sederhana, hanya meninggalkan kuda, pedang, seorang pelayan. Umar menangis, menyebutnya perisai umat. Di akhir hayat, Khalid mengakui keputusan Umar semata karena Allah.

Inilah epik yang membuat kita kagum. Kehebatan tanpa kesombongan, kekuasaan tanpa ketergantungan, pemecatan tanpa pemberontakan. 

Seorang panglima rela “turun” demi menjaga tauhid. Seorang khalifah berani mencopot jenderal terpopuler demi akidah dan tata kelola. Di tengah dunia yang gemar mengultuskan figur dan alergi pada evaluasi, kisah ini seperti cambuk lembut. 

Kemenangan bukan milik manusia, jabatan bukan mahkota abadi, dan integritas lebih mahal dari tepuk tangan. Semoga Allah meridhai keduanya. Wallahu a’lam.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya