Berita

Budayawan Jaya Suprana. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Flatumologi

KAMIS, 19 FEBRUARI 2026 | 18:03 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MEMANG terminologi Flatumologi gagasan saya. Namun sebagai ilmu Flatumologi sudah lebih terlebih dahulu eksis bahkan dianggap sangat penting dalam bidang kesehatan dan ilmu pengetahuan.

Flatulomogi adalah ilmu yang mempelajari tentang flatulensi, yaitu gas yang dihasilkan oleh sistem pencernaan manusia atau hewan, yang kemudian dikeluarkan melalui – maaf -- anus.

Flatulensi atau gas perut adalah kondisi normal yang dialami oleh semua orang, tetapi dapat menjadi tidak nyaman jika berlebihan. Flatulogi mempelajari tentang penyebab, gejala, dan pengobatan flatulensi, serta bagaimana cara mencegahnya.


Beberapa topik yang dipelajari dalam flatumologi antara lain komposisi gas perut (termasuk gas seperti nitrogen, oksigen, karbon dioksida, hidrogen, dan metana); faktor yang mempengaruhi produksi gas perut (seperti makanan, minuman, dan kondisi kesehatan); gejala dan diagnosis flatulensi serta pengobatan dan pencegahan flatulensi (termasuk perubahan diet, obat-obatan, dan terapi).

Flatumologi adalah bidang keilmuan yang penting karena dapat membantu kita memahami bagaimana sistem pencernaan kita bekerja dan bagaimana kita dapat menjaga kesehatan pencernaan yang baik.

H2S, atau hidrogen sulfida, memiliki bau yang sangat khas dan tidak sedap, mirip dengan kentut atau telur busuk. Hal ini disebabkan oleh struktur molekul yang memiliki atom sulfur (belerang) maka dapat bereaksi dengan reseptor bau di hidung manusia.

Atom sulfur dalam H2S memiliki elektron yang tidak berpasangan, sehingga membuatnya sangat reaktif dan dapat berikatan dengan reseptor bau di hidung kita, menyebabkan sinyal bau yang kuat dan tidak sedap.

Selain itu, senyawa istimewa ini juga memiliki titik didih yang rendah, sehingga dapat dengan mudah menguap dan menyebar di udara, membuat baunya lebih kuat dan menyengat.

Skunk (Mephitis mephitis) mengeluarkan bau yang sangat tidak sedap dan menyengat, yang dikenal sebagai “skunk odor” atau “bau skunk”. Bau ini dihasilkan oleh cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar anal skunk, yang terletak di dekat anus mereka. Bau skunk disebabkan oleh senyawa kimia yang disebut thiol, yang memiliki struktur molekul mirip dengan bau tidak sedap hidrogen sulfida.

Thiol ini sangat reaktif dan dapat bereaksi dengan reseptor bau di hidung predator, menyebabkan sinyal bau yang kuat dan tidak sedap. Bau skunk sangat efektif dalam mengusir predator, karena baunya yang sangat kuat dan tidak sedap dapat membuat predator merasa tidak nyaman dan menjauh dari skunk.

Skunk adalah hewan pribumi Amerika Utara, maka tidak ditemukan secara alami di Indonesia. Namun, di Indonesia ada hewan lain yang memiliki kemampuan mengeluarkan bau tidak sedap seperti skunk, yaitu Teledu (Mydaus javanensis), yang juga dikenal sebagai “Sigung Jawa” atau “Sigung Sumatera”.

Teledu adalah hewan endemik di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan memiliki kelenjar anal yang dapat mengeluarkan cairan berbau tidak sedap untuk mengusir predator.

Di dalam pewayangan, tokoh paling sakti mandraguna tak tertandingi oleh dewata, dedemit apalagi manusia adalah Semar. Senjata pamungkas Semar  mirip skunk atau teledu yaitu flatulence alias angin perut alias kentut yang bikin para musuh menyingkir demi tidak jatuh pingsan bahkan binasa.

Di kebudayaan Jawa ada lagu spesialis kentut yaitu “Bang Bang Tut”.

Secara malumologis maupun psikososiologis, fenomena kentut sangat menarik untuk ditelaah. Manusia yang kentut berbunyi lazimnya langsung merasa malu sebab langsung ketahuan dari arah mana maka siapa kentut berbunyi.

Namun manusia yang kentut tidak berbunyi sembari berbau merupakan kesempatan untuk tidak mengaku kentut sambil menuduh atau tepatnya: memfitnah orang lain yang kentut.

Yang paling tidak bermasalah adalah kentut tidak berbunyi dan tidak berbau sehingga tidak ada yang perlu merasa malu dan secara alasanologis sama sekali tidak beralasan untuk saling menuduh apalagi memfitnah.

Budayawan dan Pendiri Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI)

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Menag Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Peserta Zikir dan Doa Kebangsaan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:09

Jelang Zikir dan Doa Kebangsaan, Puluhan Ribu Umat Mulai Padati Kawasan Monas

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:48

Poros Tengah NU: Jalan Pemersatu, Menjaga Marwah, dan Kedaulatan Jam’iyah

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:50

Tim 9 Geledah Rumah Febrie Adriansyah di Kebayoran Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:47

Tak Sekadar Bendungan, Menteri Dody Punya Rencana Matang Tangkal Kekeringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:23

Azis Husaini Resmi Menjadi Nahkoda Baru RMOL.ID, Media Ekonomi dan Politik

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:43

Brigade Pangan KAMMI Bersambut Sambas Dukung PM-AAS

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:29

Warga Kupang: Terima Kasih Pak Jokowi!

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:49

Korupsi Masih jadi Tantangan Terbesar Demokrasi Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:07

Garuda Indonesia Pertahankan Kendali GMF di Tengah Kuasi Reorganisasi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:56

Selengkapnya