Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Marhaban Ramadan

RABU, 18 FEBRUARI 2026 | 13:34 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

MARHABAN, ya Ramadan. Jutaan ucapan selamat datang bulan suci Ramadan menyeruak di layar-layar ponsel, di antara grup-grup WhatsApp. Ini beda dari tahun-tahun lalu, saat ucapan selamat Ramadan semarak lewat spanduk-spanduk yang ditempel di pojok-pojok jalan.

Ramadan di negeri ini selalu datang seperti tamu agung yang alamatnya jelas, meski jam kedatangannya sering membuat tuan rumah berdebat di depan pagar. Tahun ini, sebagian umat membuka pintu pada Rabu 18 Februari, sementara sebagian lain memilih Kamis 19 Februari.

Di Nusantara, menyambut Ramadan bukan sekadar perkara kalender. Ia festival kultural yang bergerak dari ujung barat hingga timur, dari Banda Aceh sampai Merauke, seolah-olah seluruh kepulauan ini sedang menyalakan lampu serentak untuk menyambut malam panjang yang penuh berkah.


Pawai obor keliling kampung menjadi ritual yang tak lekang oleh listrik PLN. Anak-anak berbaris dengan wajah bercahaya, para orang tua berjalan sambil mengawasi, dan para remaja memanfaatkan momentum untuk menunjukkan bahwa mereka sanggup membawa obor sekaligus menenteng pengeras suara.

Kota-kota besar Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, hingga kota-kota kecil yang tidak pernah masuk daftar wisata dunia, mendadak memiliki denyut yang sama: cahaya api kecil yang menari di malam hari, seperti bintang-bintang yang turun ke jalan.

Namun, jika obor memberi cahaya, maka lagu-lagu religi memberi suasana. Ramadan di Indonesia tidak pernah datang sendirian; ia selalu diiringi soundtrack. Dari radio tua di warung kopi hingga speaker masjid yang kadang terlalu bersemangat, suara lagu religi mengalir seperti udara yang tak terlihat tapi terasa.

Para penyanyi legendaris negeri ini seakan punya kewajiban moral menciptakan lagu Ramadhan: dari qasidah klasik hingga pop religius modern. Lagu-lagu itu menjadi penanda waktu yang lebih kuat dari kalender digital.

Di tengah gemerlap produksi studio dan aransemen orkestra, rakyat tetap memelihara lagu yang paling sederhana. Misalnya, “Ya ?ann?n, Ya Mann?n,” yang sering diawali seruan “Shay’un lill?h, y? Rama??n” yang artinya sesuatu untuk Allah, wahai Ramadhan.

Kalimat pendek ini memuat kedalaman makna yang nyaris filosofis. Dalam tradisi Arab, seruan itu bisa menjadi ajakan bersedekah yaitu berilah sesuatu karena Allah. Dalam konteks Ramadan Nusantara, ia juga terdengar seperti deklarasi spiritual yakni wahai bulan suci, inilah persembahan kami untuk Allah.

Maka, ketika anak-anak kampung menyanyikannya dengan suara yang belum stabil, atau ketika rebana dipukul dengan ritme yang kadang lebih cepat dari niat pemainnya, yang terdengar bukan sekadar lagu. Yang terdengar adalah kesadaran kolektif tentang memberi, memohon ampunan, dan pulang kepada Yang Maha Pengasih.

“Ya ?ann?n, Ya Mann?n” bukan hanya panggilan kepada sifat Ilahi; ia juga pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang selalu butuh maaf dan selalu punya peluang memperbaiki diri.

Menariknya, lagu ini tidak memiliki pengarang tunggal yang bisa dipajang fotonya di sampul album. Ia hidup dalam tradisi lisan, berubah dari satu kampung ke kampung lain, dipendekkan agar cocok dengan ketukan rebana, atau diulang agar cocok dengan semangat peserta pawai. Ia adalah musik rakyat dalam arti paling murni: milik bersama, dinyanyikan bersama, dan diwariskan tanpa kontrak royalti.

Perbedaan hari awal puasa, cahaya obor yang berarak, dan lantunan lagu yang berulang setiap tahun menunjukkan satu hal: Ramadan di Indonesia bukan sekadar ibadah personal, melainkan pengalaman sosial yang mempersatukan.

Orang boleh berbeda dalam menentukan awal bulan, tetapi mereka bertemu di jalan yang sama, menyanyikan lagu yang sama, dan berharap pada ampunan yang sama.

Barangkali di sinilah keindahan paradoks itu bahwa kita memulai puasa pada hari yang berbeda, tetapi merasakan Ramadan pada malam yang sama. Obor-obor padam sebelum tengah malam, lagu berhenti ketika baterai speaker habis, dan keramaian perlahan kembali sunyi.

Namun yang tersisa adalah kesadaran sederhana bahwa bulan suci ini datang bukan untuk mencari keseragaman, melainkan untuk menyalakan kepekaan kepada mereka yang masih jauh dari rasa nyaman.

Ramadan akhirnya bukan soal siapa yang lebih dahulu berpuasa, tetapi siapa yang lebih dahulu memberi dan memaafkan. Bukan soal berapa kali lagu dinyanyikan, tetapi berapa banyak hati yang dilunakkan.

Dan mungkin, di balik seruan “Shay’un lill?h, y? Rama??n,” yang paling berharga untuk dipersembahkan bukanlah uang sedekah atau suara merdu, melainkan kesediaan manusia untuk menjadi lebih bertaqwa.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya