Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Demokrasi Telah Sekarat

SELASA, 17 FEBRUARI 2026 | 17:14 WIB

BANYAK orang sepertinya tidak sadar, negara ini telah bergeser dari negara demokrasi ke plutokrasi dan oligarki dalam waktu yang bersamaan. 

Karenanya, meskipun warga negara Indonesia ini turut aktif dalam memberikan suaranya di setiap Pemilu, namun suaranya kemudian terhenti setelah para pejabat negara dilantik. 

Di sini berarti Pemilu hanya sebagai syarat formalitas saja, untuk bisa dikatakan Indonesia sebagai penganut demokrasi. 


Padahal kenyataannya tidak. Setelah Pemilu selesai urusan negara ini kemudian diserahkan dan dikendalikan oleh plutokrat, atau orang yang memiliki kekuasaan karena kekayaannya.

Bukan bermaksud untuk menggurui, melainkan saya hanya mengingatkan sebagian masyarakat awam saja, biar apa yang saya tulis ini bisa dengan mudah difahami oleh semua orang dari berbagai kalangan. 

Bahwa istilah plutokrat ini berasal dari kata Yunani, yakni ploutos yang berarti kekayaan dan kratos yang bermakna kekuasaan. Jadi, Plutokrat adalah penguasa yang berkuasa karena uang atau kekayaan.

Plutokrasi sendiri merupakan sistem pemerintahan, di mana kekuasaan dikendalikan oleh orang-orang kaya. 

Dalam sistem ini kebijakan cenderung menguntungkan kelompok kaya (para pemodal), atau orang dengan kekayaan besar punya pengaruh politik kuat di masyarakat. 

Karenanya, dalam sistem ini mereka yang memiliki uang banyak, akan lebih didengar dan berperan daripada suara rakyat biasa. 

Makanya jangan pernah heran kenapa Presiden Prabowo Subianto yang berpidato menggebu-gebu mau melawan oligarki yang jahat dan mencuri kedaulatan rakyat, beberapa jam setelah itu  kok tiba-tiba malah mengadakan pertemuan khusus dengan para oligarki. 

Ini seperti yang saya katakan di atas. Negara ini sudah bergeser dari demokrasi ke plutokrasi. 

Presiden Prabowo sendiri sangat memahami pentingnya kedudukan orang-orang kaya, pemodal besar yang sebelumnya ia sumpahi mau dilawannya karena telah mencuri kedaulatan rakyat itu.

Oh ya, biar lebih jelas lagi saya ingin sedikit menjelaskan perbedaan antara sistem plutokrasi dan oligarki. Karena plutokrasi dan oligarki seringkali dianggap sama, padahal sebenarnya berbeda.

Jika plutokrasi bermakna kekuasaan dipegang oleh orang-orang kaya (pemodal besar/ konglomerat), maka oligarki yang berasal dari kata oligo bermakna yakni kekuasaan yang dipegang oleh sedikit orang. 

Ia bisa dari kalangan keluarga, militer atau elite partai politik. Namun dalam sistem oligarki ini, yang berkuasa tidak harus orang kaya/konglomerat. Bisa saja ia bukan dari orang kaya raya (konglomerat), namun diperalat oleh orang atau kelompok kaya raya (konglomerat). 

Kata oligarki ini sangat populer di masa Pemerintahan Jokowi dan berlanjut di masa Pemerintahan Prabowo Subianto. 

Sebab ketika itu banyak analis politik yang melihat, betapa Jokowi yang bukan dari kalangan konglomerat, telah diperalat oleh para pemodal/konglomerat. 

Hingga secara tidak langsung pemerintahan Jokowi ketika itu, berada dalam kendali para konglomerat yang kemudian populer disebut dengan Oligark.

Pertanyaannya kemudian, apakah sistem pemerintahan kita ini lebih tepat dikatakan bergeser dari demokrasi ke plutokrasi ataukah ke oligarki? 

Untuk menjawab pertanyaan ini, sebetulnya kita cukup memperhatikan siapakah kelompok-kelompok yang diuntungkan oleh berbagai kebijakan pemerintahan sekarang? 

Makan Bergizi Gratis alias MBG misalnya, yang paling banyak diuntungkan itu orang-orang kaya, atau kelompok pendukung Prabowo dan Jokowi. 

Bukan para siswa atau orang-orang tidak mampu yang mendapatkan jatah seporsi makanan tak lebih dari 15 ribu per hari (kenyataan di lapangan kadang di bawah 10 ribu). Maka pastilah sistem pemerintahan kita lebih tepat jika dikatakan sudah bergeser ke plutokrasi. 

Namun jika dilihat dari sedikitnya orang yang mendapatkan keuntungan besar dari seluruh kekayaan alam kita, juga jika dilihat dari terkonsentrasinya kekuasaan politik dan ekonomi hanya terbatas di sedikitnya orang, kelompok suksesor Prabowo dan Jokowi, maka sistem pemerintahan kita lebih tepat bergeser ke oligarki. 

Jadi memang agak membingungkan dikotomi antara plutokrasi dan oligarki di negeri ini, 

Namun satu hal yang pasti, di negeri ini mau tidak mau, suka atau tidak suka, demokrasi bisa dikatakan telah sekarat, mau mati dan berganti menjadi negara yang menjalankan sistem pemerintahan plutokrasi dan oligarki dalam waktu yang bersamaan.

Saiful Huda Ems
Analis Politik

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya