Berita

Mantan Wapres Jusuf Kalla (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Quo Vadis Indonesia)

Bisnis

JK Ingatkan Bahaya Lingkaran Negatif Ekonomi di Tengah Target 8 Persen

SENIN, 16 FEBRUARI 2026 | 07:10 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tantangan ekonomi Indonesia saat ini tidak ringan. Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, mengatakan ada banyak tekanan yang dihadapi negara ini. 

Dalam wawancara di kanal YouTube Quo Vadis Indonesia, yang dipandu oleh Todung Mulya Lubis, seorang pengacara dan mantan dutabesar RI untuk Norwegia, Kalla menanggapi target pertumbuhan 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dengan nada realistis. 

“Memang ekonomi dunia sekarang mengalami masalah di mana-mana,” ujarnya, dikutip redaksi di Jakarta, Senin 16 Februari 2026. 


Ia merujuk pada tekanan yang terjadi di Amerika Serikat, China, Rusia, Jepang, hingga Eropa. Sebagai negara dengan hubungan dagang luas, Indonesia ikut terkena imbasnya.

Menurut Kalla, persoalan bukan hanya faktor global. Ia menyinggung beban kebijakan masa lalu, termasuk tingginya utang negara, yang kini menjadi tanggung jawab pemerintahan berjalan. 

“Banyak kebijakan yang menyebabkan utang kita tinggi, dan itu sekarang menjadi tanggung jawab pemerintah berikutnya,” katanya. 

Kalla, yang pernah mendampingi mantan Presiden Joko Widodo pada periode pertama, menekankan pentingnya evaluasi kebijakan fiskal agar ruang gerak pemerintah tidak semakin sempit.

Ia menjelaskan bahwa ekonomi negara ditopang dua pilar Utama, yaitu kekuatan pemerintah melalui APBN dan kekuatan pengusaha lewat investasi. Ketika fiskal tertekan dan belanja berkurang, dampaknya langsung terasa ke daerah dan masyarakat. 

“Begitu pemerintah mengalami kesulitan fiskal besar, spending pemerintah tentu berkurang,” ujarnya. 

Maka efeknya pun berantai; daya beli turun, swasta menahan ekspansi, dan investasi melemah. 

Meski data resmi menunjukkan pertumbuhan 5,11 persen, Kalla mengingatkan agar publik tidak hanya terpaku pada angka. 

“Jangan hanya lihat pasar saham. Lihat pasar Tanah Abang hari Senin, atau sentra di Makassar, lihat bagaimana keadaannya,” katanya, menegaskan pentingnya membaca kondisi riil di lapangan.

Terkait gejolak pasar modal, ia mengatakan bahwa masalah saham itu karena pejabat, baik di bursa maupun di OJK, tidak melaksanakan aturan dengan betul. Ia juga menyoroti praktik penggorengan saham dan koreksi investor asing. Ketika modal asing keluar, harga saham turun, dolar dan emas naik. 

“Artinya orang ingin selamat dengan cara tidak mau pegang Rupiah,” katanya.

Soal konsumsi masyarakat yang melemah dan kelas menengah yang menyusut, Kalla kembali pada teori dasar ekonomi. 

“Pendapatan sama dengan konsumsi ditambah tabungan. Kalau pendapatan turun, konsumsi turun,” jelasnya. 

Penurunan konsumsi, lanjutnya, akan memukul seluruh sistem ekonomi. Ia juga menyoroti pengurangan transfer ke daerah yang membuat banyak pemerintah daerah kesulitan menjalankan pembangunan. “Yang paling kena itu bupati dan gubernur,” ujarnya.

Di tengah situasi ini, Kalla mengingatkan bahaya lingkaran negatif ekonomi. 

“Kalau tidak investasi, lapangan kerja menurun. Lapangan kerja menurun, pendapatan menurun. Pendapatan menurun, konsumsi menurun. Konsumsi menurun, produksi dikurangi lagi. Itu negative cycle,” tegasnya.

Baginya, target 8 persen bukan mustahil, tetapi membutuhkan investasi besar, kebijakan yang tepat, dan pemulihan kepercayaan pasar. “Sudah syukur kita masih bisa 5,1 persen,” katanya, sembari mengingatkan bahwa persepsi masyarakat di lapangan bisa saja berbeda dari angka statistik.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

8.620 Hektare Lahan Kalsel Terbakar, Pemadaman Terganjal Krisis Air

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:24

BRImo Taiwan Manjakan Diaspora dan PMI Kelola Keuangan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:15

Temuan Bibit Sawit Bongkar Motif Karhutla Bukan Semata karena El Nino

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:52

ISPA dan Rabies Mulai Mengancam Ribuan Pengungsi Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:39

Tolak Demo Berbau Provokasi di DPR, Jaga Jakarta!

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:23

Magang Pengurus KDKMP Replikasi Model Bisnis Berbasis Potensi Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:12

Masa Iddah Politik Calon Ketum PBNU: Bolehkah Perkum Menambah Syarat?

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:06

Menuju Muktamar NU, Nahdliyin Berharap Sejarah 2015 Tak Terulang

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:31

Gebu Minang-Hanura Terbangkan 3,6 Ton Rendang Buat Korban Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:28

Obligasi Sosial Berkelanjutan BRI Raih IDX Channel Anugerah ESG 2026

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya