Berita

Ilustrasi Puncak Monas (Sumber Gemini)

Nusantara

Asal-usul Emas Monas yang Jarang Diketahui

MINGGU, 15 FEBRUARI 2026 | 14:17 WIB | OLEH: TIFANI

Monumen Nasional (Monas) merupakan salah satu ikon Indonesia yang berdiri megah di pusat Jakarta. Monumen ini dikenal luas karena kilauan emas yang membalut bagian puncaknya, tepatnya pada ornamen yang disebut Lidah Api Kemerdekaan.

Selain menjadi simbol semangat perjuangan bangsa Indonesia yang tak pernah padam, emas di puncak Monas juga menyimpan kisah sejarah yang menarik. Keberadaan emas tersebut tidak lepas dari masa pemerintahan Presiden Soekarno, yang menggagas pembangunan Monas sebagai monumen kebanggaan nasional pada era 1960-an. 

Sejak awal, Monas memang dirancang bukan hanya sebagai bangunan monumental, tetapi juga sebagai penanda kejayaan Indonesia yang merdeka dan berdaulat.


Asal-usul Emas di Puncak Monas

Melansir situs Badan Sertifikasi Kadin DKI Jakarta, Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959. Monas dibangun untuk mengenang semangat juang bangsa Indonesia dalam memperebutkan kemerdekaan.

Monas dirancang oleh arsitek-arsitek Indonesia, yaitu Soedarsono, Frederich Silaban, dan Ir. Rooseno. Pembangunan Monas dilakukan dalam tiga tahap: 1961–1965, 1966–1968, dan 1969–1976. 

Biayanya sebagian besar berasal dari sumbangan masyarakat, termasuk sumbangan wajib bagi pengusaha bioskop di seluruh Indonesia. Tercatat pada periode November 1961 hingga Januari 1962, 15 bioskop berhasil mengumpulkan dana Rp 49.193.200,01.

Awalnya monumen ini bernama Tugu Peringatan Nasional sebelum akhirnya resmi disebut Monumen Nasional. Menurut dokumen resmi, kawasan Monas dibuka untuk umum berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin Nomor Cb.11/1/57/72 tanggal 18 Maret 1972.

Desain Monas berbentuk Lingga-Yoni yang melambangkan hubungan sakral antara laki-laki dan perempuan serta kesuburan. Puncaknya berbentuk lidah api yang menjadi simbol semangat perjuangan bangsa Indonesia.

Lidah api ini dilapisi emas asli yang sebagian besar berasal dari sumbangan tokoh Aceh, Teuku Markam, seorang pengusaha besar sekaligus pejuang kemerdekaan. Emas Monas berasal dari tambang emas di Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara. 

Namun, sumbangan terbesar justru datang dari Teuku Markam yang memberikan sekitar 28 kilogram emas. Total emas di Monas mencapai 72 kilogram, dengan 50 kilogram melapisi lidah api dan 22 kilogram menghiasi ornamen di Ruang Kemerdekaan.

Di ruang ini tersimpan pula salinan naskah Proklamasi yang dilindungi kotak kaca berhiaskan bunga Wijaya Kusuma. Teuku Markam adalah keturunan Uleebalang (kepala daerah) Kesultanan Aceh yang lahir sekitar 1925.

Ia pernah menjadi Letnan Satu di Koetaradja, bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI), dan bertempur di Medan Area. Setelah kemerdekaan, Teuku Markam mendirikan PT Karkam (cikal bakal PT Berdikari), bergerak di bidang perdagangan, ekspor-impor, dan kepemilikan aset strategis seperti galangan kapal di berbagai kota. 

Ia dikenal dekat dengan Presiden Soekarno dan kerap disebut bagian dari “Kabinet Bayangan” Orde Lama. Namun, nasibnya berubah drastis setelah Soeharto berkuasa pada 1966. 

Ia diciduk tanpa pengadilan, dan dipenjara di berbagai tahanan selama delapan tahun. Sebagian besar asetnya diambil alih pemerintah dan dialihkan menjadi modal negara di PT Berdikari (Persero).

Akibatnya, keluarga Teuku Markam sempat hidup terlunta-lunta. Ia dibebaskan pada 1974 setelah sakit bertahun-tahun di RSPAD Gatot Soebroto, dan meninggal pada 1985 di Jakarta akibat komplikasi penyakit.

Emas di puncak Monas bukan hanya penambah kemegahan tugu, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa dan kisah seorang saudagar Aceh yang pernah berjaya lalu jatuh miskin karena pusaran politik.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

UPDATE

Tak Lagi Menjabat, Anies Keliling Kampus Isi Ceramah

Senin, 09 Maret 2026 | 10:15

Pemerintah Diminta Turun Atasi Ancaman Kental Manis pada Anak di Aceh Tamiang

Senin, 09 Maret 2026 | 10:10

Tips Praktis Investasi Emas untuk Pemula, Cara Aman Lindungi Nilai Aset

Senin, 09 Maret 2026 | 10:10

Prabowo Minta Laporan Progres Proyek 10 Universitas STEM dan Kedokteran di Hambalang

Senin, 09 Maret 2026 | 10:03

Ramai Isu Pembajakan, Pandji Bakal Rilis Buku dari Spesial Show Mens Rea

Senin, 09 Maret 2026 | 10:01

Malam Takbiran dan Nyepi Barengan di Bali? Begini Cara Umat Menjaga Harmoni

Senin, 09 Maret 2026 | 09:54

Perkara Selebgram Nabilah O'Brien dengan Zendhy Kusuma Berujung Damai

Senin, 09 Maret 2026 | 09:52

JK Sarankan Prabowo Prioritaskan Program yang Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 09 Maret 2026 | 09:42

Serangan ke KPK soal Kasus Gus Yaqut Dinilai Menyesatkan

Senin, 09 Maret 2026 | 09:36

Cadangan BBM Hanya 20 Hari, Ekonom Ingatkan Risiko Inflasi dan Beban Fiskal

Senin, 09 Maret 2026 | 09:33

Selengkapnya