Berita

Ilustrasi

Bisnis

Indonesia Dinilai Mampu Bangun PLTN Seperti Negara Maju

MINGGU, 15 FEBRUARI 2026 | 13:36 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), dinilai sebagai langkah strategis yang patut didorong oleh pemerintah, mengingat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN), Bahlil Lahadlia juga tengah mengembangkan realisasi itu.

Pakar energi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Muhammad Bachtiar Nappu memandang, Indonesia memiliki sumber daya uranium dan thorium yang menjadi bahan baku dasar nuklir. 

Daerah yang memiliki sumber daya ini pun, kata dia, juga tersebar di banyak daerah seperti di Bangka Belitung, Kalimantan, bahkan di Mamuju Sulawesi Barat. 


Oleh karena itu, menurutnya teknologi Small Modular Reactor (SMR) lebih cocok bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, karena kapasitasnya lebih kecil dan fleksibel dibanding PLTN konvensional. 

"Lebih baik dibangun yang small ini daripada PLTN konvensional. Karena PLTN konvensional minimal kapasitasnya 1.000 MW. Tapi kalau small, misalnya 50 MW,” ujar Bachtiar dalam keterangannya, Minggu, 15 Februari 2026.

Senada dengan Bachtiar, pakar energi dari Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan, Andi Jumardi memandang, nuklir adalah energi masa depan yang secara nilai sangat ekonomis. 

Andi menyebut, Indonesia sangat mampu mengembangkan energi nuklir karena memiliki sumber daya manusia yang kompeten. Dia pun menjelaskan bahwa industri nuklir saat ini sudah sangat modern. Oleh karena itu dia menampik kekhawatiran yang masih jadi perbincangan publik terkait efek negatif dari nuklir tersebut.

“Kalau dari riset yang pernah saya lakukan, dari sisi sumber daya manusia kita sangat kompeten untuk pengembangan energi nuklir. Kita juga punya cadangan uranium di Kalimantan Barat. Kasus Fukushima itu force majeure karena bencana alam yang luar biasa. Dari situ, teknologi terus berkembang untuk mengantisipasi risiko serupa di masa depan,” tegasnya.

Setali tiga uang, Peneliti dari Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, mendorong agar pemerintah segera mengembangkan energi nuklir, karena terdapat sejumlah keunggulan teknis PLTN dibanding sumber energi konvensional.

“PLTN itu unggul dari sisi densitas energi. Dengan bahan bakar yang sangat kecil, kita bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil,” kata Ary dalam keterangannya.

Menurut Ary, dari sisi emisi, PLTN termasuk sumber energi bersih karena tidak menghasilkan karbon dioksida dalam proses pembangkitannya. Hal ini membuat nuklir relevan dengan target penurunan emisi nasional.

Hanya saja, menurutnya ada tantangan utama pengembangan PLTN di Indonesia yang bukan pada teknologinya, melainkan pada penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur, dan integrasi dengan kawasan industri.

“Teknologi sekarang jauh lebih aman dibanding masa lalu. Sistemnya makin otomatis, kontrolnya ketat, dan ketergantungan pada faktor manusia semakin kecil," ucapnya.

"Dengan teknologi terbaru, risiko itu bisa ditekan sangat rendah. Nuklir sering diserang lewat isu lingkungan, padahal kalau dibandingkan pembangkit fosil justru yang jauh lebih mencemari,” demikian Ary menambahkan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya