Berita

Tapak harimau di Perkebunan Nanas PT GGPC, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. (Foto: Istimewa)

Nusantara

Ditemukan Tapak Harimau di Perkebunan Nanas PT GGPC Lampung

MINGGU, 15 FEBRUARI 2026 | 05:56 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu melalui Seksi KSDA Wilayah III Lampung memastikan temuan jejak kaki satwa di area perkebunan nanas milik PT Great Giant Pineapple (GGP), Kabupaten Lampung Timur, merupakan tapak Harimau Sumatera.

Kepala Seksi KSDA Wilayah III Lampung, Itno Itoyo mengatakan, kepastian tersebut diperoleh setelah dilakukan rapid analysis atas laporan petugas keamanan perusahaan. 

Analisis dilakukan berdasarkan dokumentasi foto jejak dengan pembanding ukuran bungkus rokok sebagai standar skala.


“Dari hasil analisis morfologi jejak, dapat disimpulkan bahwa jejak tersebut paling konsisten mengarah pada Harimau Sumatra,” ujar Itno dikutip dari RMOLLampung, Minggu 15 Februari 2026.

Menurut dia, secara morfologis jejak tersebut menunjukkan empat jari telapak kaki yang tegas tanpa bekas kuku -- ciri khas keluarga kucing besar (Felidae). 

Bantalan tengah telapak kaki tampak besar dengan tiga lekukan di bagian posterior, karakter umum jejak harimau.

Temuan itu, kata Itno, juga diperkuat oleh faktor lokasi. Berdasarkan data koordinat, titik jejak berada sekitar 350 meter dari kawasan Taman Nasional Way Kambas.

Kawasan tersebut dikenal sebagai habitat penting berbagai satwa dilindungi, termasuk harimau Sumatra, sekaligus berfungsi sebagai koridor jelajah satwa. 

Kemunculan jejak di area perkebunan yang berbatasan langsung dengan taman nasional dinilai masih dalam pola pergerakan yang wajar.

“Pergerakan harimau dewasa bisa saja terjadi untuk mencari mangsa, memperluas teritori, atau sekadar melintas. Ini merupakan perilaku alami satwa liar,” kata Itno.

Merujuk analisis risiko konflik mengacu pada Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor P.48 Tahun 2008, BKSDA menilai tingkat potensi konflik manusia dan satwa dalam kasus ini masih tergolong rendah. 

“Hasil analisis ini bersifat sementara. Diperlukan identifikasi lanjutan di lapangan, serta koordinasi dengan para pihak untuk mencegah potensi konflik di kemudian hari,” pungkas Itno.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya