Berita

Ilustrasi. (Foto: artificial intelligence)

Politik

RI Masuk Board of Peace, GIF: Hati-hati, Jangan Sampai Terseret Dominasi AS-Israel

MINGGU, 15 FEBRUARI 2026 | 00:39 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Keputusan Indonesia bergabung sebagai anggota awal Board of Peace (BoP) dinilai bukan sekadar langkah diplomasi biasa. Di balik narasi perdamaian tersimpan dinamika kekuatan besar yang bisa menjadi peluang sekaligus jebakan geopolitik.

Hal itu mengemuka dalam webinar nasional Global Insight Forum (GIF) bertajuk “Di Balik Narasi Perdamaian: Apa Makna Board of Peace bagi Posisi Geopolitik Indonesia?”, Sabtu, 14 Februari 2026. Kegiatan diikuti ratusan akademisi, mahasiswa, dan pemerhati hubungan internasional.

Direktur Eksekutif GIF, Teuku Rezasyah, menegaskan bahwa Indonesia memang memiliki ruang untuk memperjuangkan isu strategis, terutama Palestina. Namun ia mengingatkan, struktur awal BoP menunjukkan dominasi Amerika Serikat dan Israel yang bergabung lebih dulu.


“Indonesia harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam konfigurasi kekuasaan yang tidak transparan. Jika kepentingan nasional diabaikan, Indonesia harus berani mengambil sikap tegas,” ujarnya.

Senior Fellow GIF, Chandra Purnama, menilai BoP berpotensi menjadi model multilateralisme baru yang selektif dan sarat kepentingan kekuatan besar.

Menurutnya, jika pengaruh hanya terkonsentrasi pada aktor tertentu, maka hukum internasional bisa bergeser ke arah politik kekuasaan.

“Indonesia sebagai middle power harus memperkuat otonomi strategis dan memimpin konsolidasi negara-negara Global South,” tegasnya.

Dari perspektif realisme politik, Faisal Nurdin Idris menyebut keputusan Indonesia sebagai langkah pragmatis untuk mengamankan posisi di tengah konstelasi global. Namun ia mengingatkan, Indonesia tidak boleh sekadar mengikuti arus kekuatan besar.

“Negara memang bertindak berdasarkan kepentingan. Tapi Indonesia harus memainkan peran strategis, bukan bandwagoning,” katanya.

Ia juga menyinggung rencana kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian yang berpotensi meningkatkan profil global, namun harus disertai kalkulasi risiko yang ketat.

Peneliti kebijakan internasional Innayathul Fitrie mengungkapkan, media global memberikan respons beragam. Sejumlah media Barat menilai langkah Indonesia berisiko dan bisa menempatkan Jakarta dalam agenda kekuatan besar. Namun media kawasan Asia melihatnya sebagai peluang memperkuat pengaruh global.

“Publik internasional akan menagih konsistensi Indonesia, terutama dalam dukungan nyata terhadap Palestina,” ujarnya.

Moderator diskusi, Aan Fatwa, menegaskan keberhasilan langkah ini bergantung pada transparansi pendanaan, kejelasan mandat, serta pengawasan publik.

“Diplomasi tidak boleh elitis. Harus terbuka dan melibatkan masyarakat sipil agar tetap sejalan dengan prinsip bebas aktif,” katanya.

Para narasumber sepakat, BoP bisa menjadi game changer bagi diplomasi Indonesia. Namun tanpa strategi jelas dan konsensus nasional, keanggotaan ini justru berpotensi menghadirkan tekanan geopolitik baru.

GIF merekomendasikan pemerintah memperkuat kepemimpinan di Global South, menjaga multilateralisme berbasis hukum internasional, serta melakukan monitoring ketat terhadap implementasi peran Indonesia.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya