Berita

Ilustrasi

Politik

Pendekatan Militer Berlebihan Bisa Lahirkan Radikalisme Baru

SABTU, 14 FEBRUARI 2026 | 22:23 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Wacana penguatan peran Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk menangani terorisme, menuai kritik. 

Mantan narapidana terorisme (napiter) Dr. Haris Amir Falah mengingatkan, penanganan terorisme tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan, tetapi harus bertumpu pada keadilan, humanisme, serta legitimasi yang kokoh.

“Siapa pun yang menangani terorisme, sepanjang ada unsur keadilan dan humanisme, tidak jadi persoalan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu, 14 Februari 2026.


Haris menilai, pelibatan unsur mana pun dalam kontra-terorisme sah-sah saja, sepanjang tidak meninggalkan prinsip dasar negara hukum. Namun ia memberi catatan tegas, pendekatan yang terlalu dominan bernuansa militer justru berisiko kontraproduktif.

“Kalau pendekatannya sangat militer, ini justru bisa membuat mereka jadi lebih militan. Karena dianggap musuh yang harus dilawan setimpal,” jelasnya.

Menurut Haris, dalam doktrin kelompok teroris terdapat prinsip perlawanan yang sebanding. Jika dihadapi dengan argumentasi dan pemikiran, maka responsnya pun berada pada level yang sama. Tetapi bila dibalas dengan kekuatan fisik dan senjata, reaksi yang muncul bisa meningkat menjadi konfrontasi terbuka.

Soal anggapan bahwa pelibatan TNI mencerminkan mosi tidak percaya terhadap Polri, Haris berpandangan tidak sesederhana itu. 

Ia menilai selama ini Polri melalui Densus 88 masih menunjukkan efektivitas dalam penanganan terorisme, dengan dukungan peran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada aspek pencegahan dan deradikalisasi.

“Apakah polisi kewalahan? Saya rasa tidak. Jumlah teroris itu kecil, hanya saja dampaknya besar sehingga terlihat menonjol,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga sistem peradilan pidana tetap berjalan sebagaimana mestinya. Berdasarkan pengalamannya saat ditangkap pada 2010, Haris mengaku seluruh proses hukum mulai dari penangkapan, pengumpulan barang bukti, hingga persidangan berlangsung sesuai prosedur.

“Barang bukti itu sampai ke pengadilan. Itu saya alami sendiri,” ujarnya.

Atas dasar itu, ia mengingatkan jika pendekatan militer murni mendominasi, terdapat kekhawatiran aspek pembuktian hukum serta kontrol ideologi bisa terpinggirkan.

Di sisi lain, Haris menegaskan penanganan terorisme memang harus bersifat holistik dan kolaboratif. Semua elemen dapat terlibat, tetapi kendali kebijakan tetap idealnya berada di institusi yang dirancang untuk penegakan hukum.

Selama peran Densus 88 dan BNPT dioptimalkan, menurutnya, tidak perlu terjadi tumpang tindih kewenangan yang justru memicu ego sektoral antar-instansi.

“Yang penting terpadu dan terkoordinasi. Jangan sampai malah berebut peran,” pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya