Berita

Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Politik

Bahlil Main Aman Jelang Pilpres 2029, Golkar Jaga Akses ke Pusat Kekuasaan

SENIN, 09 FEBRUARI 2026 | 10:43 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Sikap Partai Golkar yang belum memperjelas arah dukungan pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 dinilai sebagai langkah politik yang disengaja. 

Strategi tersebut diperkirakan bertujuan menjaga kepercayaan pusat kekuasaan sekaligus memastikan akses politik Golkar tetap terbuka.

Pengamat politik Citra Institute, Efriza, menilai pernyataan berulang Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang menegaskan partainya akan mengawal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hingga akhir masa jabatan, mencerminkan upaya mencari posisi paling aman.


“Bahlil lebih memilih menjaga akses ke lingkaran kekuasaan yang dipimpin Prabowo. Apalagi, posisi Golkar saat ini sedang menguat setelah isu munaslub terhadap Bahlil berhasil dipadamkan,” ujar Efriza kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Senin, 9 Februari 2026.

Menurut Efriza, di bawah kepemimpinan Bahlil, Golkar relatif mampu mempertahankan citra positif sebagai partai yang adaptif terhadap dinamika politik. Karena itu, setiap pernyataan politik Bahlil kini tampak lebih berhati-hati agar tidak menimbulkan dampak negatif seperti polemik sebelumnya.

“Pernyataan Bahlil merupakan bentuk retorika dukungan sekaligus pengulangan sikap resmi partai sebagaimana diputuskan dalam Munas. Ini dilakukan untuk menjaga fleksibilitas politik, baik bagi dirinya sebagai ketua umum maupun bagi Golkar agar tetap dinilai adaptif,” jelasnya.

Lebih jauh, Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) itu menilai langkah Bahlil bukan hanya untuk memastikan keberlanjutan posisi Golkar dalam pemerintahan Prabowo, tetapi juga untuk menjaga hubungan politiknya dengan mantan Presiden Joko Widodo.

“Bahlil tampak enggan terjebak pada sikap dukung-mendukung Pilpres yang masih jauh. Ia khawatir langkah tersebut justru memunculkan persepsi negatif, seolah lebih loyal kepada Jokowi dibandingkan Prabowo,” pungkas Efriza.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya