Berita

Ilustrasi (Gambar: RMOL/Reni Erina)

Politik

Outlook Kredit RI Negatif, DPR Ingatkan Dampak ke Investor

SABTU, 07 FEBRUARI 2026 | 12:32 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sentimen negatif kembali membayangi pasar keuangan Indonesia setelah sejumlah lembaga global menyampaikan evaluasi yang kurang menggembirakan. 

Tekanan datang beruntun, mulai dari MSCI yang menyoroti praktik pasar saham, Goldman Sachs yang menurunkan posisi saham Indonesia menjadi underweight, hingga keputusan terbaru Moody’s yang merevisi outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, menilai penurunan outlook tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah yang dinilai kurang konsisten serta lemahnya kualitas tata kelola, termasuk dalam pengelolaan Danantara dan penentuan prioritas investasi.


"Kini kita dikejutkan kembali dengan rilis terbaru Moody's atas level kredit rating Indonesia dari stable ke negative. Pangkal masalahnya, Moody's menilai menurunnya prediktabilitas kebijakan yang melemahkan efektivitas kebijakan, dan kualitas tata kelola pemerintahan. Moody's memberikan atensi dalam hal tata kelola Danantara, prioritas investasi dan sumber pendanaannya," ujarnya di Jakarta, dikutip Sabtu 7 Februari 2026. 

Menurut Said, tekanan dari lembaga internasional belum berhenti. Dalam waktu dekat, FTSE Russell yang berada di bawah London Stock Exchange juga dijadwalkan mengumumkan penilaian terhadap prospek pasar saham dan ekonomi Indonesia. Ia melihat adanya pola yang sama dari berbagai koreksi tersebut, yakni sorotan terhadap tata kelola yang belum optimal di berbagai sektor, mulai dari pasar modal hingga kebijakan fiskal.

Ia menambahkan, peringatan semacam ini sebenarnya telah lama disuarakan. IMF dan International Debt Relief (IDR) sebelumnya juga menyoroti tingginya rasio utang pemerintah terhadap pendapatan negara.

"Kartu Kuning yang diberikan MSCI sebenarnya sudah lama, demikian halnya nyala lampu kuning dari IMF dan IDR terkait dengan utang pemerintah. IMF merekomendasikan utang pemerintah tidak lebih dari 150 persen dari pendapatan negara, sedangkan International Debt Relief (IDR) merekomendasikan maksimal 167 persen, namun posisi kita sudah 349,9 persen," jelasnya.

Said mengingatkan, kondisi tersebut berpotensi memperburuk kepercayaan investor, terutama di pasar obligasi negara, seiring terus menurunnya porsi kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN).

"Kalau ini dibunyikan terus IMF dan IDR, makin memberi persepsi negatif kepada investor pada pasar obligasi, dan sebagian investor asing juga sudah pergi dari SBN (Surat Berharga Negara). Empat tahun lalu kepemilikan asing dalam SBN masih 40 persen, akhir Desember 2025 tinggal 14 persen," katanya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya