Berita

Ilustrasi Dolar AS (Gambar: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Dolar AS Melemah, Yen dan Pound Terdampak Ketidakpastian Global

SABTU, 07 FEBRUARI 2026 | 09:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kurs Dolar AS di pasar uang New York pada Jumat 6 Februari 2026 waktu setempat melemah dari level tertinggi dua pekan sebelumnya. 

Pelemahan ini terjadi setelah sebagian penguatan sebagai aset aman terkikis, seiring bangkitnya aset berisiko yang sempat jatuh akibat kekhawatiran lonjakan belanja terkait kecerdasan buatan tahun ini.

Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kinerja Dolar terhadap enam mata uang utama, turun 0,34 persen, meski tetap mencatat penguatan 0,5 persen sepanjang pekan, menuju kenaikan mingguan terbesar sejak awal Januari.


Pendorong awal penguatan Dolar adalah pencalonan Kevin Warsh oleh Presiden Donald Trump sebagai ketua Federal Reserve berikutnya. Warsh dipandang bukan pendukung penurunan suku bunga yang agresif, sehingga pasar sempat menilai prospek Dolar tetap kuat.

Para pelaku pasar kini menantikan rilis laporan ketenagakerjaan nonpertanian AS untuk Januari, yang tertunda dan diperkirakan akan terbit pekan depan. Berbagai indikator selama pekan ini menunjukkan bahwa ekonomi AS mulai kehilangan momentum, sehingga peluang pemangkasan suku bunga lebih besar pada paruh pertama tahun ini mulai diperhitungkan, bukan hanya pada paruh kedua.

Sementara itu, Yen Jepang menuju pekan terburuknya terhadap Dolar sejak Oktober, menghapus sebagian besar penguatan yang terjadi pada Januari, menjelang pemilu nasional Minggu ini. 

Yen melemah 0,04 persen ke level 157,1 per Dolar AS, di tengah peluang kemenangan Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Ketidakpastian politik ini menimbulkan kekhawatiran fiskal, memicu aksi jual di pasar mata uang dan obligasi, serta potensi dampak global.

Euro menguat 0,37 persen ke 1,1822 Dolar AS setelah Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi pada Kamis dan menilai fluktuasi nilai tukar tidak akan memengaruhi kebijakan secara signifikan.

Sementara itu, Pound sterling memangkas sebagian penurunan hampir 1 persen pada Kamis, naik 0,65 persen menjadi 1,3614 Dolar AS, namun tetap menuju penurunan mingguan terburuk terhadap Dolar sejak 27 Oktober.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya