Berita

Mantan Presiden AS Barack Obama dan Michelle Obama (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube ABC News)

Dunia

Heboh di Amerika: Trump Unggah Video Bernuansa Rasis Soal Obama

SABTU, 07 FEBRUARI 2026 | 07:01 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat sensasi dan menuai kecaman setelah mengunggah video di Truth Social yang menampilkan Barack Obama dan Michelle Obama sebagai monyet selama sekitar satu detik di akhir video.

Dikutip dari NBC News, Sabtu, 7 Februari 2026, video berdurasi satu menit itu juga diiringi lagu The Lion Sleeps Tonight serta mengulang tuduhan palsu bahwa Dominion Voting Systems mencurangi Pemilu 2020. Hingga Jumat pagi, unggahan tersebut sudah mendapat ribuan tanda suka.

Unggahan itu langsung memicu reaksi keras, termasuk dari Partai Republik, yang menyebut video tersebut “tidak dapat diterima” dan “rasis”, serta meminta Trump menghapusnya dan meminta maaf. Video itu kemudian dihapus menjelang siang hari Jumat.


Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt meminta publik tidak memperbesar persoalan ini. “Ini berasal dari video meme internet yang menggambarkan Presiden Trump sebagai Raja Hutan dan Demokrat sebagai karakter dari ‘The Lion King’. Tolong hentikan kemarahan palsu ini dan laporkan sesuatu yang benar-benar penting bagi publik Amerika hari ini," ujarnya.

Obama merupakan satu-satunya presiden kulit hitam dalam sejarah AS dan pendukung Kamala Harris pada Pilpres 2024. Trump sendiri memiliki riwayat panjang menyerang Obama, termasuk menyebarkan klaim palsu bahwa Obama lahir di Kenya. Tuduhan itu akhirnya terbantahkan setelah Obama merilis akta kelahiran dari Hawaii, yang kemudian diakui Trump pada 2016.

Dalam masa jabatan keduanya, Trump makin sering menggunakan gambar dan video berbasis AI untuk menyerang lawan politik. Tahun lalu, ia mengunggah video AI yang menampilkan Obama seolah ditangkap di Ruang Oval, serta klip lain yang dinilai bernuansa rasis.

Sejak kembali berkuasa, Trump juga memimpin kampanye melawan program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI), termasuk menghentikan seluruh program DEI federal dan menghapus sejumlah buku tentang sejarah diskriminasi dari akademi militer. Kebijakan ini menuai kritik karena dianggap melemahkan perjuangan hak-hak sipil warga kulit hitam Amerika sejak 1960-an.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Rakyat Ingin Hukum yang Keras terhadap Pelaku Korupsi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 02:19

Sumber APBN Berpeluang dari Harta Rampasan Koruptor

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:57

Gaduh Desil DTSEN, Bonnie Triyana: Buka Mekanisme Sanggah

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:21

Aset Daerah Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:03

Ribuan Pengunjung Padati Hari Pertama Danantara Housing Expo

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:52

Leonardi Divonis 2,5 Tahun Penjara Meski Tak Terbukti Terima Uang

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:22

Kecurigaan Netizen Benar, Habis Karhutla, Muncullah Sawit

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:01

Pelindo-BNN Edukasi Pelajar di Empat Kota soal Bahaya Narkoba

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:31

Pos Polisi di Kolong Flyover Slipi Dibakar Massa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:10

UU Perampasan Aset Beri Kepastian Hukum Berantas Korupsi

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:00

Selengkapnya