Berita

Mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan Ditjen Bea dan Cukai, Rizal (RMOL/Jamaludin)

Hukum

KPK Bongkar Dugaan Jatah Rp7 Miliar per Bulan di Balik Jalur Impor PT Blueray Cargo

JUMAT, 06 FEBRUARI 2026 | 12:01 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap dugaan penerimaan jatah bulanan hingga Rp7 miliar oleh pejabat pajak yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) terkait pengurusan jalur impor di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan.

Informasi tersebut disampaikan Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, usai pengumuman tersangka dalam perkara dugaan suap pengaturan jalur importasi barang.

“Di lapangan, saat peristiwa tertangkap tangan, diduga jatah bulanan itu mencapai sekitar Rp7 miliar. Angka ini masih akan terus kami dalami,” ujar Budi kepada wartawan, Jumat, 6 Februari 2026.


Budi menegaskan, penyidik akan menelusuri pihak-pihak lain yang terlibat dalam perkara tersebut, termasuk aliran dana yang diterima oleh masing-masing pihak.

Ia juga mengungkap bahwa barang impor yang diurus melalui jalur tersebut beragam, mulai dari sepatu hingga barang lain yang keasliannya masih akan ditelusuri. Menurut Budi, barang-barang tersebut seharusnya melalui pemeriksaan fisik oleh petugas Bea Cukai, namun diduga diloloskan tanpa pengecekan.

KPK sebelumnya menggelar OTT pada Rabu, 4 Februari 2026, dan mengamankan 17 orang di Jakarta dan Lampung. Sehari kemudian, Kamis malam, 5 Februari 2026, KPK menetapkan enam orang sebagai tersangka.

Mereka adalah Rizal (RZL), Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) DJBC periode 2024-Januari 2026; Sisprian Subiaksono (SIS), Kepala Subdirektorat Intelijen P2 DJBC; dan Orlando Hamonangan (ORL), Kepala Seksi Intelijen DJBC.

Selain itu, KPK juga menetapkan John Field (JF), pemilik PT Blueray Cargo (BR); Andri (AND), Ketua Tim Dokumen Importasi PT BR; serta Dedy Kurniawan (DK), Manajer Operasional PT BR, sebagai tersangka.

Dari enam tersangka tersebut, lima orang telah ditahan. Sementara itu, John Field belum berhasil diamankan karena melarikan diri saat hendak ditangkap. KPK meminta yang bersangkutan segera menyerahkan diri.

Dalam OTT tersebut, KPK menyita barang bukti senilai total Rp40,5 miliar dari kediaman Rizal dan Orlando, kantor PT Blueray Cargo, serta sejumlah lokasi lainnya.

Barang bukti yang diamankan antara lain uang tunai sebesar Rp1,89 miliar, 182.900 Dolar AS, 1,48 juta Dolar Singapura, 550 ribu Yen Jepang, dua keping logam mulia masing-masing seberat 2,5 kilogram senilai sekitar Rp7,4 miliar dan 2,8 kilogram senilai sekitar Rp8,3 miliar, serta satu unit jam tangan mewah senilai Rp138 juta.

Dalam konstruksi perkara, KPK mengungkap bahwa pada Oktober 2025 terjadi permufakatan jahat antara Orlando, Sisprian, dan pihak lainnya dengan John Field, Andri, dan Dedy untuk mengatur jalur importasi barang milik PT Blueray Cargo.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, pelayanan dan pengawasan impor dibagi ke dalam dua kategori jalur, yakni jalur hijau yang tidak melalui pemeriksaan fisik, dan jalur merah yang mewajibkan pemeriksaan fisik barang.

Dalam kasus ini, Filar, seorang pegawai DJBC, diduga menerima perintah dari Orlando untuk menyesuaikan parameter jalur merah dengan menyusun rule set pada angka 70 persen. Data tersebut kemudian dikirimkan dari Direktorat P2 ke Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai (IKC) untuk dimasukkan ke mesin targeting atau alat pemindai barang.

Pengaturan tersebut diduga membuat barang-barang impor PT Blueray Cargo tidak melalui pemeriksaan fisik. Akibatnya, barang yang diduga palsu, tiruan, atau ilegal dapat masuk ke Indonesia tanpa pengecekan petugas Bea Cukai.

Setelah pengkondisian jalur tersebut, penyidik menemukan adanya sejumlah pertemuan dan penyerahan uang dari pihak PT Blueray Cargo kepada oknum DJBC pada periode Desember 2025 hingga Februari 2026. Penyerahan uang itu diduga dilakukan secara rutin setiap bulan sebagai “jatah” bagi para pejabat terkait.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Thoriqoh itu Fokus ke Allah, Bukan ke Jokowi dan PSI

Selasa, 01 September 2026 | 05:52

Enam Program Prioritas Sektor Kelautan-Perikanan Jamin Kesejahteraan Masyarakat

Selasa, 01 September 2026 | 05:26

IAW Soroti Tersendatnya INA-24: Sampai Kapan Berlindung di Balik Warisan?

Selasa, 01 September 2026 | 04:53

Prabowo Terima KTA NU

Selasa, 01 September 2026 | 04:29

Onduline Siapkan Produk dan SDM Terbaik Dukung Pembangunan Sekolah Rakyat

Selasa, 01 September 2026 | 03:59

Tragedi Kelas Menengah, Terjepit dan Terlupakan

Selasa, 01 September 2026 | 03:47

Sempat 13 Hari Hilang Kontak di Laut, Awak KM El Malika Bersiap Kembali ke Rumah

Selasa, 01 September 2026 | 03:25

TNI Perkuat Penanganan Karhutla Melalui Penyuluhan

Selasa, 01 September 2026 | 02:55

Usung Konsep "Moving for Longevity", Fervid Pilates Studio Perluas Edukasi Komunitas

Selasa, 01 September 2026 | 02:42

Merawat Konsep Ekonomi-Politik Hatta

Selasa, 01 September 2026 | 02:20

Selengkapnya