Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membutuhkan kepemimpinan yang teduh, mengakar, dan kharismatik untuk mengembalikan jati diri usai diterpa berbagai sorotan tajam dan dinamika yang memicu kegelisahan warga nahdliyyin.
Koordinator Bidang Pengkaderan PWNU Jawa Timur 2018–2023, Ahmad Samsul Rijal, menilai pembaruan melalui reformasi total ditubuh NU merupakan keharusan. Jangan biarkan NU terus terseret konflik kepentingan seperti sekarang.
“PBNU seperti terbelit masalah karena gaya kepemimpinan yang melompat-lompat layaknya politisi. NU dibawa keluar dari arena khidmatnya. Akibatnya, kerja-kerja utama justru terabaikan,” kata Rijal, Kamis, 5 Februari 2026.
Katib Syuriyah PCNU Jombang 2017–2022 itu berharap Muktamar ke-35 NU yang direncanakan Juli 2026 menjadi momentum refleksi sekaligus pergantian kepemimpinan PBNU.
“Nahdliyyin berharap pemimpin PBNU ke depan adalah figur yang mampu mengembalikan jati diri NU, menguatkan peran jam’iyyah secara efektif, dan menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Dalam pandangannya, Prof. KH Ma’ruf Amin dan KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) merupakan pasangan ideal untuk memimpin PBNU. Keduanya dinilai memenuhi harapan warga NU, baik dari sisi keilmuan, pengalaman, maupun karakter kepemimpinan.
KH Ma’ruf Amin sendiri dikenal sebagai ulama konseptor ekonomi syariah Indonesia dan pelopor industri keuangan syariah. Dengan sanad keilmuan yang kuat, Ma’ruf Amin dinilai memiliki visi menjadikan Indonesia pusat ekonomi syariah dunia berbasis keadilan, keumatan, dan kedaulatan.
“Pernah menjadi Rais Aam PBNU 2015–2020, lalu mundur karena diminta menjadi cawapres hingga menjabat Wapres 2019–2024. Beliau juga memilih mundur dari sejumlah jabatan strategis demi regenerasi,” jelasnya.
Sementara itu, Gus Salam dikenal sebagai pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, pesantren warisan KH Bisri Syansuri, salah satu muassis NU. Ia dua kali berkhidmat di PBNU dan lama menjadi penggerak utama PWNU Jawa Timur sebagai Wakil Ketua.
Saat di PWNU Jawa Timur, Gus Salam menjadi penggagas utama program “Panca Gerak”, yang menekankan pengkaderan berbasis IT, pendidikan berkualitas, kemandirian ekonomi melalui BMT NU dan BPRS, penguatan layanan kesehatan NU, serta dakwah dan literasi digital.
“Rekam jejak Prof. KH Ma’ruf Amin dan KH Abdussalam Shohib memenuhi kompetensi dan kualifikasi kepemimpinan PBNU yang dibutuhkan untuk mengembalikan NU pada jati diri jam’iyyah, tujuan pendirian, dan tantangan zaman,” pungkasnya.