Berita

Anggota Komisi VI DPR RI, I Nengah Senantara. (Foto: F-Nasdem)

Politik

Regulasi Impor Tentukan Nasib Industri Tekstil Baru

RABU, 04 FEBRUARI 2026 | 16:29 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Kebijakan pemerintah dalam membangkitkan industri tekstil nasional dinilai Anggota Komisi VI DPR RI, I Nengah Senantara, masih belum selaras, sehingga berpotensi menghambat upaya pemulihan sektor tersebut.

Di satu sisi pemerintah mendorong produksi lokal, namun di sisi lain kebijakan impor justru dibuka selebar-lebarnya. Kondisi itu dianggap menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan industri tekstil dalam negeri. 

“Ada keinginan mendorong produksi lokal, tetapi di sisi lain kementeriannya membuka impor selebar-lebarnya. Hampir semua tekstil pakaian itu sudah dikuasai produk China, sekitar 90 persen. Dengan harga sangat murah dan kualitas memadai, apakah industri tekstil baru kita mampu bersaing?” ujar Nengah dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR dengan Menteri Perdagangan Budi Santoso, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.


Ia juga menyinggung rencana pembentukan usaha tekstil baru yang sempat dibahas dalam pertemuan Komisi VI dengan Danantara. Menurut Nengah, pemerintah harus terlebih dahulu mempelajari penyebab kolapsnya industri tekstil nasional yang sudah lama berdiri. 

“Tekstil kita yang sudah berdiri sekian lama saja bangkrut. Ini harus dipelajari betul. Jangan sampai membentuk usaha baru yang hanya berumur dua atau tiga tahun,” tegasnya.

Lebih lanjut, Nengah mengingatkan rencana investasi besar di sektor tekstil, yang nilainya disebut mendekati Rp100 triliun, merupakan dana publik yang harus dipertanggungjawabkan secara serius. Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan regulasi sebelum usaha baru dibentuk. 

“Itu uang rakyat. Sebelum usaha tekstil ini dibentuk, alangkah bijaknya regulasinya dulu diatur dan antar kementerian disinkronkan. Kita sepakat membentuk usaha baru, tapi mohon dilindungi, jangan dibunuh oleh kebijakan impor,” katanya.

Nengah menegaskan, tanpa regulasi yang ketat, produk tekstil lokal akan sulit bersaing, terutama dari sisi harga. Ia mencontohkan maraknya produk impor murah di pasar domestik. 

“Kalau kita bicara produksi, saya yakin bisa. Tapi apakah mampu bersaing di harga? Harga kaos enam potong saja bisa Rp50 ribu. Apakah tekstil kita mampu bersaing, baik dari sisi harga maupun kualitas?” pungkasnya.



Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya