Berita

Ilustrasi, Saham (Sumber: Gemini Generated Image)

Bisnis

Menkeu Purbaya Singgung Saham Gorengan Saat IHSG Anjlok, Apa Itu?

SENIN, 02 FEBRUARI 2026 | 19:29 WIB

Istilah saham gorengan kembali ramai diperbincangkan setelah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Meski banyak pihak menilai penurunan IHSG dipicu oleh faktor eksternal, seperti pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), Purbaya turut menyinggung maraknya peredaran saham-saham gorengan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selama ini, istilah saham gorengan kerap dikaitkan dengan pergerakan harga saham yang tidak wajar, volatilitas tinggi, serta potensi risiko yang besar. Lantas, apa itu saham gorengan, bagaimana ciri-cirinya, dan mengapa keberadaannya bisa berdampak pada pergerakan IHSG?

Apa Itu Saham Gorengan?

Melansir laman resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saham gorengan adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan saham yang mengalami kenaikan harga secara tidak wajar dan biasanya tidak ditopang oleh kinerja fundamental perusahaan. Harga saham tersebut digerakkan oleh oknum tertentu, yang kerap disebut bandar, melalui praktik manipulasi untuk menciptakan permintaan semu di pasar.

Saham gorengan diibaratkan seperti makanan gorengan. Gorengan terlihat menarik dan menggoda, namun berisiko tinggi bagi kesehatan, dalam konteks ini, bagi portofolio investor. 

Ciri-ciri Saham Gorengan

OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memantau pergerakan saham yang terindikasi mengalami aktivitas pasar tidak biasa atau Unusual Market Activity (UMA). Pemantauan ini dilakukan untuk melindungi investor dari potensi risiko transaksi yang tidak wajar. 


Berikut ciri-ciri saham gorengan yang perlu diwaspadai investor.

1. Kenaikan Harga Tidak Wajar

Saham gorengan umumnya mengalami lonjakan harga yang ekstrem dalam waktu singkat. Kenaikan harga bisa mencapai puluhan persen hanya dalam hitungan hari tanpa didukung oleh berita positif, aksi korporasi, maupun laporan keuangan yang solid.

2. Volume Transaksi Melonjak Tiba-Tiba

Saham dengan kapitalisasi kecil mendadak mencatatkan volume transaksi yang sangat tinggi. Lonjakan ini bahkan bisa melampaui volume transaksi saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip.

3. Volatilitas Harga Sangat Tinggi

Pergerakan harga saham terlihat sangat fluktuatif dalam jangka pendek, naik dan turun secara tajam. Kondisi ini biasanya mencerminkan aktivitas spekulatif yang dominan.

4. Fundamental Perusahaan Lemah

Emiten yang sahamnya digolongkan sebagai saham gorengan umumnya memiliki kinerja keuangan yang kurang sehat. Perusahaan bisa mengalami kerugian, memiliki rasio utang tinggi, atau tidak memiliki rencana ekspansi bisnis yang jelas.

5. Masuk Daftar UMA atau Papan Pemantauan Khusus

BEI secara rutin merilis daftar saham yang masuk kategori UMA atau papan pemantauan khusus karena pergerakan harga dan volume transaksinya dinilai tidak wajar. Saham gorengan kerap masuk dalam daftar ini.

6. Didorong  Sentimen yang Tidak Jelas

Pergerakan harga saham sering kali dipicu oleh rumor, kabar sensasional, atau informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial dan grup diskusi investasi.

Cara Menghindari Saham Gorengan

Fenomena saham gorengan kerap menjadi jebakan bagi investor yang tergiur oleh kenaikan harga dalam waktu singkat. Saham jenis ini biasanya bergerak tidak wajar, melonjak tajam tanpa didukung oleh kinerja fundamental perusahaan yang solid atau prospek bisnis yang jelas.

Di balik euforia kenaikan harga tersebut, risiko penurunan secara drastis juga mengintai sehingga menimbulkan kerugian besar dalam waktu singkat. Fluktuasi harga yang tidak rasional umumnya dipicu oleh praktik manipulasi pasar yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, sehingga investor yang tidak waspada berpotensi menjadi korban.

Berikut beberapa cara menghindari saham gorengan.

1. Lakukan Riset Fundamental dengan Detail

Riset fundamental menjadi langkah penting sebelum membeli saham. Tujuannya agar investor memahami kondisi perusahaan secara menyeluruh. 

Analisis ini mencakup kinerja keuangan, laporan laba rugi, arus kas, hingga tingkat utang perusahaan. Selain itu, investor juga perlu menilai model bisnis, prospek industri, serta reputasi manajemen perusahaan. 

Saham gorengan umumnya memiliki fundamental yang lemah atau tidak sebanding dengan kenaikan harga sahamnya.

2. Hindari Saham dengan Volatilitas yang Tidak Masuk Akal

Pergerakan harga saham yang naik turun secara ekstrem dalam waktu singkat patut diwaspadai. Volatilitas yang tidak wajar sering kali tidak didukung oleh sentimen positif yang jelas atau kinerja perusahaan yang membaik. 

Kondisi ini bisa menjadi indikasi adanya praktik goreng saham oleh pihak tertentu. Investor sebaiknya memilih saham dengan pergerakan harga yang lebih stabil dan rasional.

3. Diversifikasi Portofolio Investasi

Diversifikasi portofolio membantu investor mengurangi risiko kerugian dari satu saham tertentu. Dengan menyebar investasi ke beberapa saham atau instrumen lain, dampak negatif dari saham gorengan dapat diminimalkan. 

Strategi ini juga membuat portofolio lebih seimbang dan tidak bergantung pada satu sektor saja. Diversifikasi merupakan prinsip dasar manajemen risiko yang disarankan OJK bagi investor.

4. Waspadai Informasi yang Tidak Valid

Investor perlu berhati-hati terhadap informasi atau rekomendasi saham yang beredar di media sosial, grup percakapan, atau forum online. Informasi yang tidak jelas sumbernya sering kali digunakan untuk menggiring investor membeli saham tertentu. 

Sebelum mengambil keputusan, pastikan informasi berasal dari sumber tepercaya dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan mudah tergiur janji keuntungan besar dalam waktu singkat.

5. Tetap pada Rencana Investasi dan Tujuan Jangka Panjang

Rencana investasi yang jelas membantu investor tetap disiplin dalam mengambil keputusan. Tujuan jangka panjang membuat investor tidak mudah terpengaruh oleh fluktuasi harga jangka pendek yang bersifat spekulatif. 

Saham gorengan biasanya mengandalkan momentum sesaat yang tidak sejalan dengan strategi investasi jangka panjang. Dengan berpegang pada rencana awal, investor dapat menghindari keputusan impulsif yang berisiko tinggi.


Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya