Berita

Ayatollah Ali Khamenei/Tangkapan layar

Dunia

Khamenei Ingatkan Risiko Perang Regional jika AS Berani Serang Iran

SENIN, 02 FEBRUARI 2026 | 08:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa setiap serangan terhadap Iran akan memicu “perang regional”.

Peringatan ini disampaikan Khamenei dalam pidatonya pada Minggu, 1 Februari 2026, di tengah meningkatnya kehadiran dan aset militer AS di kawasan Timur Tengah di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

“Mereka harus tahu bahwa jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional,” kata  Khamenei di hadapan ribuan pendukung yang berkumpul untuk memperingati kembalinya Ayatollah Ruhollah Khomeini ke Iran pada 1979, dikutip dari Al-Jazeera, Senin 2 Februari 2026.


Khamenei menuduh Amerika Serikat ingin “melahap” Iran dan menguasai sumber daya minyak serta gas alamnya. Ia juga menyebut gelombang protes anti-pemerintah baru-baru ini sebagai “pemberontakan yang mirip dengan kudeta”, karena sejumlah kantor pemerintahan, bank, dan masjid diserang.

“Pemberontakan baru-baru ini mirip dengan kudeta. Tentu saja, kudeta itu telah dipadamkan,” ujar Khamenei. 

Ia menuding para pelaku menyerang polisi, pusat pemerintahan, fasilitas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bank, dan masjid, serta membakar salinan Al-Qur’an.

Menanggapi pernyataan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia berharap Iran bersedia mencapai kesepakatan. Saat ditanya soal ancaman Khamenei, Trump berkata singkat, “Tentu saja dia akan mengatakan itu.” 

“Semoga kita bisa mencapai kesepakatan. Jika tidak, maka kita akan tahu apakah dia benar atau tidak," kata Trump.

Sementara itu, PBB, kelompok HAM internasional, serta oposisi Iran di luar negeri menyebut ribuan orang tewas akibat tindakan aparat keamanan selama terjadi aksi protes baru-baru ini. Seorang pelapor khusus PBB mengatakan jumlah korban bisa melampaui 20.000 orang, meski informasi terhambat pemadaman internet. Aktivis berbasis di AS mengklaim ada 6.713 korban tewas dan sedang menyelidiki 17.000 kasus lainnya.

Pemerintah Iran membantah tudingan tersebut. Media pemerintah menyebut jumlah korban tewas 3.117 orang, terdiri dari 2.427 warga sipil dan sisanya anggota pasukan keamanan.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya