Berita

Ilustrasi gedung Bursa Efek Indonesia. (Foto: Pasardana.id)

Bisnis

Dirut BEI Mundur hanya Puncak Gunung Es Sakit Kronis Pasar Modal 10 Tahun

SABTU, 31 JANUARI 2026 | 12:32 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pengunduran diri Iman Rachman dari jabatan direktur utama Bursa Efek Indonesia (BEI) bukanlah kejutan, melainkan hanya sebagian kecil dari masalah yang lebih besar dari gejala penyakit kronis pasar modal yang dibiarkan lebih dari satu dekade. Terutama terkait kegagalan transparansi data dan lemahnya koordinasi antar-lembaga negara.

"Ini adalah puncak gunung es dari kegagalan sistemik yang telah diperingatkan selama bertahun-tahun. Mundurnya Rachman bukan penyebab, melainkan symptom dari penyakit kronis yang menggerogoti fondasi pasar modal Indonesia, kegagalan atas transparansi data dan koordinasi antar-lembaga negara," kata Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW) Iskandar Sitorus

Kebobrokan memuncak setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) melontarkan peringatan keras terkait investability pasar modal Indonesia. Dampaknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hingga 16 persen hanya dalam dua hari perdagangan, memicu kepanikan luas dan memaksa BEI melakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt). 


Dikatakan Iskandar, peristiwa tersebut adalah buah pahit dari sepuluh tahun pembiaran. Ia menyinggung MSCI pada awal 2026 secara terbuka menyoroti persoalan mendasar pasar modal Indonesia. Bukan soal laju pertumbuhan IHSG, melainkan rendahnya transparansi struktur kepemilikan saham, sulitnya mengidentifikasi ultimate beneficial owner (UBO), free float yang minim sehingga menciptakan ilusi likuiditas, serta kualitas dan akses data yang dinilai tidak ramah investor global.

"Peringatan MSCI memiliki bobot signifikan karena menggunakan kriteria investability sebagai dasar klasifikasi pasar. Frontier, emerging, hingga developed. Respons pasar berlangsung cepat, sehingga IHSG mengalami tekanan tajam dalam beberapa sesi perdagangan. Peristiwa ini menjadi titik balik psikologis bagi pasar, bahwa isu transparansi yang sebelumnya dianggap teknis berubah menjadi risiko sistemik reputasional bagi Indonesia," jelas Iskandar. 

Iskandar menilai apa yang terjadi sebagai titik balik psikologis pasar. Ia menyebut isu transparansi yang selama ini dianggap remeh, tiba-tiba berubah menjadi risiko sistemik dan reputasional. Begitu kepercayaan runtuh, dampaknya langsung ke IHSG.

Padahal, lanjut Iskandar, tanda-tanda kegagalan sudah muncul sejak 2016?"2019. Di balik tren kenaikan IHSG kala itu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) berulang kali menemukan lemahnya pengawasan BEI sebagai self regulatory organization (SRO) serta tidak sinkronnya data antara AHU Kemenkum, OJK, dan BEI.

“Peringatan BPK diabaikan, semua sibuk menikmati grafik hijau. Kelemahan sistem semakin telanjang saat pandemi Covid-19 pada 2020?"2021. Laporan BPK menemukan masalah serius pada sistem teknologi informasi pasar modal. Data perdagangan dan kepemilikan saham tidak terintegrasi. Pengawasan real-time jadi mustahil. Ini celah besar bagi manipulasi," ungkapnya.

Ironisnya, saat pasar terlihat pulih pada 2022?"2024, krisis justru semakin dalam. IAW menemukan hilangnya data perusahaan dari sistem AHU Kemenkum, termasuk informasi pemilik manfaat. Salah satunya data perusahaan PT Lawu Agung Mining.

"Hilangnya data ini bukan kesalahan teknis biasa, melainkan indikasi sistemik ketertutupan. Kalau data hulu saja ditutup atau hilang, jangan mimpi ada transparansi di hilir, di BEI dan OJK,” tegas Iskandar.

IAW telah memberi peringatan langsung kepada BEI. Pada 15 Juli 2025, tiga surat resmi dilayangkan, mulai dari tuntutan keterbukaan informasi material, kritik atas penanganan Unusual Market Activity (UMA), hingga kepatuhan standar akuntansi.

"Namun responsnya formalistis. Mereka bangga kepatuhan di atas 90 persen, tapi menutup mata pada kualitas informasi. Inilah yang kami sebut kepatuhan semu," imbuhnya.

Menurut Iskandar, pengunduran diri Dirut BEI hanyalah simbol kegagalan kolektif. Akar masalahnya ada pada sistem AHU Kemenkum sebagai penyedia data hulu, OJK sebagai regulator, dan BEI sebagai operator yang berjalan sendiri-sendiri. 

"Tanpa integrasi data, penegakan hukum tegas, dan komando kebijakan dari pimpinan tertinggi negara, ancaman penurunan status Indonesia oleh MSCI bukan lagi wacana melainkan tinggal menunggu waktu," katanya mewanti-wanti.

Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

"Surat" dari MSCI, Gempa di IHSG

Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:06

Jelang Harlah ke-100 NU, Ribuan Warga Nahdliyyin Padati Istora Senayan

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:58

Sebelum Letakkan Jabatan, Mahendra Siregar Beri Sinyal Positif untuk Danantara

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:51

Kevin Warsh, Veteran Bank Sentral Calon Ketua The Fed

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:41

OJK Buka Pintu bagi Danantara dalam Rencana Demutualisasi BEI

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:17

Donald Trump Resmi Tunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:04

Pantai Larangan Tegal Penuh Kayu Gelondongan dari Gunung Slamet

Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:29

Polri di Bawah Presiden Pastikan Tugas Kamtibmas Berjalan Baik

Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:06

Yel-yel Panitia Haji

Sabtu, 31 Januari 2026 | 05:49

LaNyalla Dorong Pemulihan Cepat Ekosistem Pulau Gili Iyang

Sabtu, 31 Januari 2026 | 05:20

Selengkapnya