Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali.(Foto: Dok Pribadi)
Rakernas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bukan sekadar seremoni, melainkan momentum krusial untuk evaluasi struktural menyeluruh demi menghadapi verifikasi faktual 2027 dan Pemilu 2029.
Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, mengingatkan seluruh kader untuk tidak terbuai dengan euforia kemenangan semu atau sekadar mengandalkan bergabungnya tokoh-tokoh besar. Ia menegaskan, kekuatan utama partai bukan pada figur di pusat, melainkan pada soliditas pengurus di tingkat akar rumput.
"Tidak ada gunanya berhimpun tokoh masuk di partai ini kalau kemudian struktur partai kita rapuh. Kekuatan kita lolos dan tidaknya partai ini ada pada saudara-saudara sekalian, pada pengurus kecamatan dan pengurus desa," tegas Ahmad Ali kepada wartawan, Jumat, 30 Januari 2026.
Dalam arahannya, Ahmad Ali juga memperkenalkan tema besar "PSI Rumah Bersama". Ia pun menyoroti pentingnya reposisi partai agar dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk menepis stigma negatif yang selama ini menjauhkan PSI dari segmen masyarakat tertentu.
"PSI harus kita jadikan rumah bersama untuk seluruh rakyat Indonesia. Rumah yang nyaman di mana tidak ada perbedaan suku dan agama. Kita harus membuka diri untuk mengevaluasi, supaya ke depan kita bisa menempatkan partai ini di hati masyarakat Indonesia, bukan hanya di kalangan tertentu, tapi seluruh masyarakat, termasuk umat Islam," ujarnya.
Lebih jauh, Ahmad Ali kembali menegaskan posisi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) sebagai patron politik PSI. Menurutnya, Jokowi adalah bukti hidup bahwa pemimpin di Indonesia tidak harus berasal dari keturunan elit atau keluarga kaya raya, melainkan lahir dari kerja keras dan kedekatan dengan rakyat.
"Spirit Pak Jokowi ini yang ditanamkan oleh PSI. Kami ingin anak-anak muda di pelosok NTT, Indonesia Timur, hingga Papua, jangan pernah takut bermimpi jadi pemimpin. Partai ini lahir untuk menciptakan pemimpin baru yang berintegritas tanpa memandang latar belakang," kata Ali.
Ahmad Ali juga memberikan instruksi khusus kepada kader PSI di daerah agar membangun hubungan yang tulus dengan para tokoh agama dan ulama. Karena selama ini citra Partai PSI di tengah masyarakat Islam belum sepenuhnya baik, Ia meminta kader untuk menjadikan ulama sebagai guru dan tempat belajar, bukan sekadar alat politik elektoral.
"Jangan pernah menjauhi tokoh agama. Ketika kalian lelah, datanglah ke pondok pesantren, datanglah ke sekolah agama untuk belajar meniti batin (hati). Jadikan mereka guru, tapi jangan jadikan mereka sekadar alat politik untuk memenangkan PSI," pesannya.
Adapun PSI menargetkan seluruh struktur partai hingga tingkat desa/kelurahan harus selesai terbentuk sebelum akhir tahun 2026. Rakernas PSI kali ini juga melibatkan masukan dari pihak eksternal, akademisi, dan peneliti untuk memastikan objektivitas dalam menyusun strategi pemenangan 2029.