Ilustrasi (RMOL/Alifia Dwi)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026.
Hingga pukul 12.15 WIB, Indeks terus merosot 7,34 persen atau turun 659,01 poin ke level 8.321.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai anjloknya IHSG ini dipicu kombinasi sentimen eksternal dan respons psikologis pelaku pasar domestik.
“Menurut saya, anjloknya IHSG ini lebih dipicu kombinasi sentimen eksternal dan respons psikologis pasar domestik,” ujar Reydi kepada RMOL.
Dari sisi global, Reydi menjelaskan, meningkatnya sikap risk-off investor terjadi seiring kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga global serta tekanan di pasar keuangan internasional.
“Kondisi tersebut mendorong investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, (seperi saham),” jelasnya.
Sementara dari dalam negeri, tekanan pasar dinilai bersifat teknikal dan psikologis, mengingat posisi IHSG sebelumnya berada di level yang relatif tinggi.
“Ketika tekanan jual muncul sejak pembukaan, hal ini memicu panic selling dan auto rejection berantai di sejumlah saham berkapitalisasi besar, sehingga pelemahan indeks menjadi sangat cepat dan dalam,” tuturnya
Reydi menambahkan, isu pemberlakuan metodologi free float Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap IHSG serta kemungkinan tidak adanya perubahan atau pembobotan konstituen indeks turut memperparah sentimen negatif dan mendorong aksi jual panik investor.
Free float sendiri merupakan jumlah saham perusahaan yang benar-benar beredar di publik dan bisa diperdagangkan bebas di pasar, tidak termasuk saham yang dipegang oleh pemegang saham pengendali, manajemen, atau pemerintah.
Dalam metodologi indeks seperti MSCI, bobot saham tidak hanya dihitung berdasarkan kapitalisasi pasar, tetapi juga berdasarkan besarnya free float. Artinya, saham dengan kapitalisasi besar tapi free float kecil bisa mendapat bobot lebih rendah dalam indeks.
Dalam hal ini, semakin besar free float, semakin likuid sahamnya, yang dinilai lebih mudah diperdagangkan dan lebih mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya, sementara free float rendah bisa menyebabkan volatilitas harga tinggi.