Berita

Ilustrasi (RMOL/Alifia Dwi)

Bisnis

IHSG Anjlok Lagi 7,34 Persen Gara-gara Ini

RABU, 28 JANUARI 2026 | 12:35 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026.

Hingga pukul 12.15 WIB, Indeks terus merosot 7,34 persen atau turun 659,01 poin ke level 8.321.

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai anjloknya IHSG ini dipicu kombinasi sentimen eksternal dan respons psikologis pelaku pasar domestik.


“Menurut saya, anjloknya IHSG ini lebih dipicu kombinasi sentimen eksternal dan respons psikologis pasar domestik,” ujar Reydi kepada RMOL.

Dari sisi global, Reydi menjelaskan, meningkatnya sikap risk-off investor terjadi seiring kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga global serta tekanan di pasar keuangan internasional. 

“Kondisi tersebut mendorong investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, (seperi saham),” jelasnya.

Sementara dari dalam negeri, tekanan pasar dinilai bersifat teknikal dan psikologis, mengingat posisi IHSG sebelumnya berada di level yang relatif tinggi.

“Ketika tekanan jual muncul sejak pembukaan, hal ini memicu panic selling dan auto rejection berantai di sejumlah saham berkapitalisasi besar, sehingga pelemahan indeks menjadi sangat cepat dan dalam,” tuturnya

Reydi menambahkan, isu pemberlakuan metodologi free float Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap IHSG serta kemungkinan tidak adanya perubahan atau pembobotan konstituen indeks turut memperparah sentimen negatif dan mendorong aksi jual panik investor.

Free float sendiri merupakan jumlah saham perusahaan yang benar-benar beredar di publik dan bisa diperdagangkan bebas di pasar, tidak termasuk saham yang dipegang oleh pemegang saham pengendali, manajemen, atau pemerintah.

Dalam metodologi indeks seperti MSCI, bobot saham tidak hanya dihitung berdasarkan kapitalisasi pasar, tetapi juga berdasarkan besarnya free float. Artinya, saham dengan kapitalisasi besar tapi free float kecil bisa mendapat bobot lebih rendah dalam indeks.

Dalam hal ini, semakin besar free float, semakin likuid sahamnya, yang dinilai lebih mudah diperdagangkan dan lebih mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya, sementara free float rendah bisa menyebabkan volatilitas harga tinggi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Ijazah Gibran cuma Berdasarkan Surat Keterangan Penyetaraan

Kamis, 24 September 2026 | 04:29

Marselino Ferdinan Resmi Gabung Persija

Kamis, 24 September 2026 | 04:13

Pemerintah Utamakan Pembinaan Bukan Tindakan Hukum soal Wajib Halal

Kamis, 24 September 2026 | 04:00

Muktamar NU Tercoreng Dugaan Duit RP480 Miliar

Kamis, 24 September 2026 | 03:38

Rano Karno Bidik Jakarta Jadi Kota Sinema

Kamis, 24 September 2026 | 03:28

Industri Percetakan Jadi Pilar Ekonomi Kreatif Indonesia

Kamis, 24 September 2026 | 03:12

Ternyata KPU Tak Verifikasi Ijazah Gibran

Kamis, 24 September 2026 | 02:54

Kevin Diks Resmi Kapten Timnas Garuda

Kamis, 24 September 2026 | 02:31

Peran Negara terhadap Transformasi Teknologi Digital dan Amputasi Data

Kamis, 24 September 2026 | 02:14

Indonesia Tambah Lima Perunggu di Asian Games 2026

Kamis, 24 September 2026 | 01:31

Selengkapnya