Berita

Anggota Komite I DPD RI, Aanya Rina Casmayanti. (Foto: Istimewa)

Politik

Aanya Rina Casmayanti:

Daerah Tak Dapat Apa-apa dari TWA Tangkuban Parahu

SENIN, 26 JANUARI 2026 | 23:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Anggota Komite I DPD RI, Aanya Rina Casmayanti, melontarkan kritik keras terhadap carut-marut pengelolaan kawasan konservasi, khususnya Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu. Kritik itu disampaikannya dalam rapat kerja bersama Kementerian ATR/BPN dan Kementerian Kehutanan, Senin 26 Januari 2026.

Aanya menilai negara terlalu longgar dalam memberikan izin pengelolaan kawasan strategis yang sejatinya berfungsi sebagai kawasan konservasi dan resapan air. TWA Tangkuban Parahu, yang sejak 2009 dikelola swasta oleh PT Graha Rani Putra Persada (GRPP), disebut menjadi contoh nyata lemahnya kontrol negara.

“Ini bukan sekadar objek wisata. Ini kawasan rawan bencana dan daerah resapan air. Kalau pengawasannya serampangan, dampaknya langsung dirasakan masyarakat Cekungan Bandung,” kata Aanya.


Aanya mengurai lebih jauh tekanan ekologis yang terjadi di Kawasan Bandung Utara (KBU). Ekspansi wisata komersial dinilai telah menggerus fungsi lingkungan, termasuk alih fungsi lahan perkebunan teh menjadi fasilitas wisata, seperti kasus penyegelan proyek Eiger Camp di Sukawana oleh Pemprov Jabar pada Maret 2025.

Menurutnya, konflik antara kepentingan ekonomi dan konservasi terus berulang akibat penegakan tata ruang yang lemah. Rekomendasi gubernur kerap tak mengikat, sementara pembangunan tetap berjalan di zona yang semestinya dilindungi.

Aanya juga menyoroti peran PTPN I Regional 2 yang dinilai tidak mampu mengelola lahan secara mandiri. Kerja sama operasi (KSO) dengan pihak ketiga justru disebut mempercepat degradasi ekosistem di kawasan lereng gunung.

Lebih jauh, Aanya mengungkap fakta mencengangkan soal keberadaan TWA, termasuk Tangkuban Parahu. Pasalnya lokasi wisata tersebut nyaris tidak memberikan kontribusi berarti bagi keuangan daerah maupun kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Alam rusak, bencana makin sering. Kontribusi ke pemerintah daerah nihil. Masyarakat sekitar pun tidak sejahtera,” tegas senator asal Jawa Barat ini.

Ironisnya, lanjut Aanya, Gunung Tangkuban Parahu adalah legenda penting dan ikon budaya bagi orang Sunda tapi manfaat terbesarnya malah diambil oleh segelintir pengusaha yang bahkan bukan orang Sunda.

“Pengelolaan kawasan seperti ini tidak bisa diserahkan pada logika bisnis semata,” pungkas Anya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kepala BRAN Dorong 3,1 Juta Hektare Lahan Transmigrasi jadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:32

KPK Pastikan Video Penjemputan Paksa Nusron Hoax!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:24

Quo Vadis 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:23

Prabowo Setujui Kajian DEN soal Definisi Korupsi Berstandar Internasional

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:17

Penindakan 1.000 Tambang Ilegal: Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:13

DPR Dorong Penguatan Koordinasi Penyaluran BBM

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:01

Gibran Terima Perwakilan WALUBI Bahas Karhutla hingga Bakti Sosial

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:50

KPK Perlu Periksa Hercules soal Uang Rp800 Juta Terkait Summarecon

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:46

Menteri Agama Optimistis Akan Ada Kebangkitan Syarikat Islam Jilid Baru

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:43

Pertamina Diusulkan Peroleh Insentif Sewa Kapal Tanker Lokal

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:41

Selengkapnya