Berita

Presiden Prabowo Subianto menghadiri World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss. (Foto: Setkab)

Publika

Prabowo dari Davos:

Perdamaian Sebagai Teguran Politik Gaduh dan Omon-omon

SABTU, 24 JANUARI 2026 | 03:06 WIB

DI Davos, perdamaian dipresentasikan sebagai fondasi kemakmuran. Di Indonesia, kegaduhan justru kerap diproduksi sebagai strategi politik. Di antara dua kenyataan itulah pidato Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum berdiri -- sekaligus terdengar seperti sindiran halus bagi mereka yang menjadikan kecurigaan sebagai bahan bakar.

Ketika Prabowo menyatakan bahwa tidak ada kemakmuran tanpa perdamaian, kalimat itu terdengar universal dan aman. Namun, bagi publik di dalam negeri, pernyataan tersebut sulit dilepaskan dari konteks politik nasional yang justru ramai oleh omon-omon, isu menggantung, dan konflik simbolik yang tak pernah dituntaskan.

Perdamaian Bukan Slogan Moral


Kalimat Prabowo bukan temuan baru. Sejak berabad-abad lalu, para pemikir politik telah menyimpulkan hal yang sama. Thomas Hobbes menegaskan bahwa tanpa perdamaian, manusia hidup dalam ketakutan yang terus-menerus. Negara dibentuk bukan untuk menciptakan kebaikan, melainkan untuk menghentikan kekacauan.

Dalam bahasa ekonomi, Adam Smith pun memahami bahwa pasar hanya bisa bekerja jika ada rasa aman, kepastian hukum, dan keteraturan sosial. Tidak ada investasi di tengah kecemasan kolektif. Tidak ada pertumbuhan di ruang publik yang terus dirusak oleh konflik.

Dengan demikian, perdamaian yang dimaksud Prabowo bukanlah idealisme moral, melainkan rasionalitas politik. Ia adalah prasyarat, bukan tujuan akhir.

Dari Konflik Fisik ke Konflik Algoritmik

Masalahnya, konflik hari ini jarang hadir dalam bentuk senjata. Ia muncul sebagai narasi. Sebagai kecurigaan. Sebagai isu yang terus diulang tanpa pernah diselesaikan. Inilah yang bisa disebut sebagai politik kecurigaan digital.

Di Indonesia, pola ini tampak jelas: isu simbolik dilempar ke ruang publik, klarifikasi dibiarkan menggantung, lalu algoritma bekerja memperbesar emosi. Kebenaran tidak lagi penting untuk diselesaikan; cukup dipertahankan dalam status ambigu agar terus memicu kemarahan.

Kasus ijazah, isu keracunan program sosial, hingga teror simbolik terhadap figur publik menunjukkan pola yang sama. Negara tidak diserang secara frontal, tetapi dilemahkan secara perlahan melalui delegitimasi.

Omon-Omon sebagai Infrastruktur Politik

Omon-omon dalam konteks ini bukan sekadar omong kosong. Ia berfungsi sebagai infrastruktur konflik. Dengan omon-omon, aktor politik tidak perlu bertanggung jawab atas kebenaran, cukup memancing keraguan. Kecurigaan yang hidup lebih lama daripada fakta.

Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa kehancuran ruang publik bukan disebabkan oleh satu kebohongan besar, melainkan oleh banjir narasi kecil yang tak pernah diverifikasi. Dalam situasi seperti itu, publik kelelahan membedakan benar dan salah. Yang tersisa hanya sinisme.

Di sinilah bahaya terbesar politik omon-omon: ia tidak menawarkan alternatif kebijakan, hanya menumbuhkan rasa tidak percaya.

Membaca Sindiran dari Davos

Jika pidato Prabowo di Davos dibaca dalam konteks ini, maka ia bukan sekadar pesan ke dunia internasional, melainkan teguran halus ke dalam negeri. Teguran bagi mereka yang hidup dari kegaduhan. Bagi aktor yang menganggap konflik simbolik sebagai strategi.

Pesan itu sederhana: tidak ada kemakmuran di atas ketidakpercayaan. Tidak ada stabilitas jika energi kolektif bangsa habis untuk saling mencurigai.

Ujian Setelah Pidato

Namun, setiap pidato adalah janji. Dan janji akan diuji oleh praktik. Perdamaian tidak akan terwujud hanya dengan retorika global jika di dalam negeri politik omon-omon tetap dibiarkan.

Menghentikan politik kecurigaan digital membutuhkan lebih dari sekadar seruan moral. Ia menuntut:
penegakan hukum yang konsisten,transparansi kebijakan, dan keberanian politik untuk tidak memelihara konflik demi keuntungan jangka pendek.

Jika tidak, perdamaian akan berhenti sebagai komoditas diplomasi—indah diperdengarkan di Davos, tetapi kosong maknanya di rumah sendiri.

Penutup

Sejarah menunjukkan, negara tidak runtuh karena kekurangan kekuasaan, melainkan karena kehabisan kepercayaan. Dalam era algoritma, kepercayaan tidak dihancurkan oleh satu serangan besar, tetapi oleh ribuan omon-omon kecil yang dibiarkan beredar.

Maka, pernyataan Prabowo di Swiss seharusnya dibaca sebagai pengingat keras tanpa perdamaian di ruang digital, kemakmuran akan selalu tertunda.

Ferry Malaka
Pusat Studi Sosial & Advokasi Untuk Penegakan Hukum (PUSSGAKUM) 

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Cinema XXI Bukukan Pendapatan Rp5,86 Triliun Sepanjang 2025

Jumat, 06 Maret 2026 | 12:13

Trump Ketahuan Bohong 30 Ribu Kali Selama Empat Tahun Berkuasa

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:59

Fandi Ramadan Divonis 5 Tahun, Komisi III DPR Akan Panggil Penyidik dan Jaksa

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:59

Youth Choice Award 2026: Sinyal Pergeseran Fokus Asuransi ke Generasi Muda

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:54

Emas Antam Turun ke Rp3,02 Jutaan Hari Ini

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:46

Vonis 5 Tahun untuk ABK Fandi Disambut Lega Komisi III DPR

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:33

Komisaris TASPEN Pastikan Penyerahan THR Pensiunan Berjalan Baik

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:31

Pemprov DKI Buka Posko THR Jelang Idulfitri

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:30

Prabowo Tegaskan BoP Masih Jadi Ikhtiar Indonesia Dorong Perdamaian Palestina

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:23

Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Jabodetabek

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:21

Selengkapnya