Berita

Arifki Chaniago (Foto: Dok. pribadi)

Politik

Deklarasi Dini Capres Gerakan Rakyat Pancing Reaksi Parpol Besar

KAMIS, 22 JANUARI 2026 | 09:32 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Dukungan Partai Gerakan Rakyat terhadap Anies Baswedan serta dukungan Partai Gema Bangsa kepada Prabowo Subianto sebagai calon presiden dinilai bukan sekadar manuver internal partai baru. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal awal yang berpotensi memancing partai-partai lain untuk mulai mempersiapkan figur presidennya lebih dini menjelang Pilpres 2029.
Pengamat politik Arifki Chaniago menilai, langkah ini dapat dibaca sebagai upaya menciptakan efek kejut dalam lanskap politik nasional.

“Deklarasi ini membuka ruang kompetisi lebih awal. Partai lain akan dipaksa berpikir ulang, apakah tetap menunggu momentum atau mulai mengamankan figur sejak sekarang,” ujar Arifki dalam keterangan resminya, Kamis, 22 Januari 2026.

Putusan Mahkamah Konstitusi yang menetapkan ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) nol persen untuk Pilpres 2029 dinilai semakin memperkuat dinamika tersebut. Dengan PT nol persen, peluang tokoh baru dan kandidat alternatif untuk tampil di panggung nasional menjadi jauh lebih terbuka. Kondisi ini berpotensi mengubah strategi partai, dari sekadar pengusung menjadi produsen figur.

Putusan Mahkamah Konstitusi yang menetapkan ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) nol persen untuk Pilpres 2029 dinilai semakin memperkuat dinamika tersebut. Dengan PT nol persen, peluang tokoh baru dan kandidat alternatif untuk tampil di panggung nasional menjadi jauh lebih terbuka. Kondisi ini berpotensi mengubah strategi partai, dari sekadar pengusung menjadi produsen figur.

Namun demikian, deklarasi Partai Gerakan Rakyat juga dinilai berpotensi mengganggu keseimbangan politik partai-partai yang sebelumnya mengusung Anies pada Pilpres 2024, khususnya Partai NasDem dan Partai Keadilan Sejahtera. Dukungan dini tersebut memunculkan dilema politik antara menjaga konsistensi sikap atau membuka opsi baru di tengah peta koalisi yang bergerak lebih cepat dari perkiraan.

“Secara tidak langsung, langkah ini seperti mengetuk pintu iman politik partai lain. Apakah mereka tetap menunggu konfigurasi besar terbentuk, atau mulai ‘curi start’ dengan mengampanyekan kadernya sendiri sejak awal,” kata Arifki.

Lebih jauh, Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia itu menyebut efek kejut tersebut juga berpotensi memancing partai-partai koalisi pemerintah untuk mengevaluasi ulang strategi politiknya. Partai Kebangkitan Bangsa, misalnya, memiliki figur Muhaimin Iskandar, sementara Partai Demokrat memiliki Agus Harimurti Yudhoyono, baik sebagai capres maupun cawapres.

Dalam situasi PT nol persen, Arifki menilai pilihan untuk hanya menunggu kepastian sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto pada Pilpres 2029, serta harus bersaing dengan Gibran Rakabuming Raka, berpotensi membuat posisi politik figur seperti Cak Imin dan AHY menjadi serba bimbang. Jika pada akhirnya tidak dipilih sebagai cawapres, keterlambatan mengambil langkah dinilai dapat membuat manuver politik mereka menjadi kurang leluasa.

“Ketika peluang mencalonkan presiden terbuka lebar, menempatkan diri hanya sebagai opsi cawapres justru bisa mengecilkan nilai tawar partai. PT nol persen seharusnya mendorong partai berani menguji kekuatan figurnya sendiri,” kata Arifki.

Efek lanjutan dari manuver Partai Gerakan Rakyat diperkirakan akan mendorong partai-partai lain untuk lebih berani menawarkan figur potensial dari internal kader, bukan sekadar menunggu figur eksternal. Pilpres 2029 pun dinilai mulai bergerak lebih cepat, bukan hanya sebagai agenda elektoral lima tahunan, melainkan sebagai arena kontestasi gagasan dan figur yang dimulai jauh sebelum tahapan resmi dimulai.

“Ini bukan soal siapa yang paling cepat mendeklarasikan, tetapi siapa yang paling siap membaca waktu sebagai variabel politik,” demikian Arifki.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya