Berita

Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate 4,75 persen pada RDG Januari 2026 (Sumber: BI)

Bisnis

Tahan BI Rate di 4,75 Persen, BI Fokus Pertajam Strategi Operasi Moneter

KAMIS, 22 JANUARI 2026 | 07:46 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bank Indonesia (BI) mengawali tahun 2026 dengan strategi baru yang lebih modern dan berorientasi pasar (pro-market). Fokus utamanya bukan sekadar menahan suku bunga, tetapi memperkuat cara kerja instrumen moneter agar likuiditas di pasar keuangan tetap sehat dan menarik bagi investor. 

Langkah ini dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga instrumen moneter yang lebih lincah dan optimalisasi transaksi swap valuta asing untuk menjaga ketersediaan Dolar di dalam negeri.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen.


Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari upaya menjaga stabilitas Rupiah di tengah ketidakpastian global, sekaligus memastikan inflasi tetap rendah. 

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 5,50 persen.

Strategi pro-market ini sebenarnya bertujuan mempercepat dampak kebijakan BI ke sektor riil. 

Setelah memangkas suku bunga cukup dalam sepanjang 2025, BI kini ingin memastikan perbankan lebih mudah menurunkan suku bunga kredit dan menyalurkan pembiayaan. 

Selain mengandalkan suku bunga, BI tetap siaga di pasar keuangan melalui intervensi di pasar spot dan pembelian SBN untuk meredam gejolak nilai tukar. 

“Hingga 20 Januari 2026, total pembelian SBN mencapai Rp23,69 triliun, termasuk Rp13,21 triliun di pasar sekunder,” ujar Perry.

BI menegaskan, pembelian SBN dilakukan secara terukur, transparan, dan sesuai mekanisme pasar guna menjaga stabilitas perekonomian dan kredibilitas kebijakan moneter.

"Dari sisi likuiditas, BI juga terus melakukan ekspansi moneter, antara lain melalui penurunan posisi instrumen moneter SRBI dari Rp916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp730,90 triliun di akhir 2025, dan kembali turun menjadi Rp694,04 triliun per 20 Januari 2026," terangnya. 

Perry menambahkan bahwa meski saat ini bunga ditahan, peluang untuk turun di masa depan masih ada, asalkan kondisi ekonomi dan stabilitas Rupiah tetap mendukung.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

DPR Dorong Pemerataan APBN Demi Daerah 3T Tidak Tertinggal

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03:50

Utut Adianto Ngarep PDIP Tidak Ditinggalkan dalam RUU Pemilu

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 03:20

Dasco Pastikan Tak Akan Tinggalkan Fraksi PDIP di RUU Pemilu

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 02:50

Pidato Prabowo Bukti Pemerintah Berada di Jalur yang Benar

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 02:23

Purbaya: Pajak Karbon Motor BBM Masih Dikaji, Belum Final

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:57

Prabowo Pilih Guyur Insentif Motor Listrik Ketimbang Perbesar Subsidi BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:45

Perkuat Pasar Muslim Jelang Libur Akhir Tahun, Taiwan Bidik Wisatawan RI

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01:14

RUU Daerah Kepulauan jadi Kado Puluhan Juta Masyarakat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:59

Pidato Kenegaraan Prabowo Tunjukkan Kejelasan Arah Pemerintah

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:31

Status Tim Penyelesaian Sengketa Internal PPP Dinilai Cacat Hukum

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:07

Selengkapnya