Berita

Ilustrasi penipuan scamming. (Foto: Artificial Intelligence)

Hukum

Nasabah Ngaku Saldo Rp2 Miliar Raib Kena Scamming

RABU, 21 JANUARI 2026 | 19:50 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Seorang nasabah perbankan berinisial DT mengaku kehilangan saldo hingga Rp2 miliar akibat kejahatan penipuan scamming berkedok perbaikan data pajak.

DT yang berlatar belakang seorang dokter ini awalnya menerima surat Permintaan Penjelasan atas Data dan/atau Keterangan (SP2DK) dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Medan Polonia pada 10 Oktober 2025. Korban baru mendatangi KPP Medan Polonia pada 20 November 2025.

Selang sehari, DT menyebut mendapat pesan WhatsApp (WA) berlogo Dirjen Pajak dari nomor 08999173918 ke telepon genggamnya berisi data coretax untuk kepentingan pelaporan SPT 2025.


DT kemudian menerima pesan WA berisi file dengan kop surat seolah dari Dirjen Pajak Kemenkeu. Inti dari surat tersebut adalah adanya kesalahan data, alamat nomor rumah korban di sistem pajak, sehingga harus diganti.

"Dipandu untuk cari Playstore di layar namun tidak ada. Kemudian diarahkan untuk dicari di Chrome palsu yang sangat mirip dengan asli. Setelah di-scroll ke bawah, didapat coretax apk dengan nama file CORETAX1_0_69_20251029.apk untuk diunduh," jelas DT dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 21 Januari 2026.

File tersebut lalu diklik dan muncul notifikasi keamanan. Setelah tidak menemukan kecurigaan, ada keterangan untuk membuat ID dan password Coretax. Setelah berhasil, file apk yang terunduh tersebut muncul di layar korban.

"Di layar HP tampak tampilan persentase proses unduhan yang berjalan tidak normal, bolak-balik berulang ke awal terus hingga memakan waktu hingga 1 jam," urai DT.

"Saya melihat layar meredup, ada pop-up notifikasi OCBC 2 kali muncul hanya 1 sampai 2 detik. Saya mulai curiga dan menekan tombol refresh HP beberapa kali selama proses itu, tetapi selalu apk yang sedang proses tetap ada," ucap DT.

Merasa curiga, korban lalu mematikan HP selama sekitar 10 menit. Namun setelah dihidupkan, uang dari rekening korban berpindah ke beberapa rekening tak dikenal hingga mencapai Rp2 miliar.

"Bank Permata terjadi 2 kali transaksi. Transaksi pertama dilakukan untuk pelunasan biaya meterai Rp10 ribu admin Coretax atas instruksi penipu dan transaksi kedua pembobolan sebesar Rp4,5 juta. Pada hari yang sama terdata di sistem HSBC ada usaha pembobolan juga oleh penipu, tetapi gagal karena terproteksi sistem," ungkap DT.

Merasa panik, DT kemudian menghubungi pihak OCBC dan diarahkan untuk membuat laporan polisi. DT kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Medan Baru dengan nomor STTLP/B/967/XI/2025/SPKT/POLSEK Medan Baru.

Kasus tersebut juga disampaikan kepada Kepala KPP Medan Polonia pada 24 November 2025. Kepada korban, KPP Medan mengaku akan melakukan investigasi dan evaluasi pengamanan data kunjungan wajib pajak.

"Sementara dari OCBC menyebut transaksi pembobolan rekening di atas telah memenuhi aspek keamanan transaksi online banking dan telah mengirim notifikasi dan email ke nasabah," jelasnya.

Jawaban pihak perbankan ini pun membuat korban kecewa. Menurutnya, transaksi hingga miliaran rupiah itu seharusnya dilakukan verifikasi ganda oleh pihak perbankan.

"Apakah bila transaksi dilakukan 50 kali hingga Rp10 miliar pun akan berlaku sesuai SOP demikian? Dari call centre OCBC tetap bertahan mereka bertindak sesuai SOP-nya," sambung DT.

Di sisi lain, ia mengakui pihak perbankan telah mengundangnya untuk membahas masalah tersebut pada 13 Desember 2025. Namun undangan tersebut ditolak korban.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya