Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Hukum

No Viral, No Justice Penyakit Serius Penegakan Hukum Indonesia

RABU, 21 JANUARI 2026 | 02:37 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Aliansi Jaringan Aktivis 98 untuk Transformasi Indonesia secara terbuka menggugat lemahnya transparansi aparat penegak hukum dan mengingatkan bahaya praktik “no viral, no justice” yang kian menguat. 

Isu panas itu mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Jampidsus Jadi Terlapor, Presiden Tersandera?” yang digelar di Hotel Mega Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Januari 2026.
 
Salah satu pembicara dalam diskusi itu yakni Direktur Eksekutif Take A Stand Indonesia Institute, Mohammad Aliardo meminta secara tegas Presiden Prabowo Subianto sebagai panglima tertinggi pemberantasan korupsi untuk tidak setengah-setengah dalam menindak para aparat hukum yang nakal. 
 

 
Hal itu bermula ketika adanya laporan masyarakat terhadap Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) yang dinilai berjalan di tempat saat ini.  

Ia juga menyoroti fenomena “no viral, no justice” yang menurutnya sudah menjadi penyakit serius penegakan hukum.
 
"Masyarakat berhak tahu perkembangan laporan Jampidsus, tapi yang terjadi justru dibiarkan mengendap sampai publik apatis," tutur Aliardo.
 
Ia mengaitkan kondisi ini dengan istilah “serakahnomics” yang pernah disampaikan Presiden.
 
"Itu peringatan keras agar aparat berhenti bermain-main dengan korupsi. Sekaligus ekspektasi agar Kejaksaan Agung benar-benar membersihkan diri. Ketika Jampidsus dilaporkan, pedang keadilan Kejaksaan terlihat tumpul,” jelasnya.
 
Aliardo juga mendorong pembenahan total di tubuh Kejaksaan melalui transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan ketat.
 
"Kejaksaan harus diawasi secara serius dan perlu reorganisasi untuk menyingkirkan oknum-oknum yang terindikasi kotor," pungkasnya.
 

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya