Berita

Ketua Komisi XI DPR Muhammad Misbakhun. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Politik

Rupiah Nyaris Rp17 Ribu, BI dan Pemerintah Jangan Bersikap Lembek

SELASA, 20 JANUARI 2026 | 15:47 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Pelemahan nilai tukar rupiah harus segera direspons cepat oleh Bank Indonesia dan pemerintah agar tidak menggerus kepercayaan pasar.

Demikian disampaikan Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menanggapi isu tekanan rupiah yang menembus kisaran Rp17.000 per dolar AS.

Misbakhun mengatakan, DPR melalui Komisi XI telah meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bergerak aktif merespons pelemahan rupiah. 


Sebab tanggung jawab utama stabilitas nilai tukar berada di Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). 

"Kita minta kepada Gubernur Bank Indonesia termasuk kepada seluruh stakeholder untuk melakukan upaya-upaya yang sungguh-sungguh," kata Misbakhun di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 20 Januari 2026.

Menurut Misbakhun, tekanan rupiah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi domestik, karena indikator fundamental masih terjaga.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan cadangan devisa berada pada level yang solid.

Namun demikian, Misbakhun menilai, sentimen pasar menjadi faktor krusial yang harus segera dijawab oleh otoritas. DPR, katanya, mendorong adanya langkah nyata untuk meredam volatilitas dan memulihkan kepercayaan pelaku pasar. 

Terkait langkah konkret, Misbakhun menilai intervensi moneter tetap diperlukan sepanjang dilakukan secara terukur dan profesional, termasuk pemanfaatan cadangan devisa. 

"Penggunaan cadangan devisa yang terukur untuk melakukan intervensi itu kan adalah hal yang melumrah di dalam kebijakan moneter," kata Misbakhun.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kejagung Diminta Awasi Ekstra Proyek Pembangunan IKN

Selasa, 22 September 2026 | 22:15

Suahasil Beberkan Tiga Jurus Perkuat Pengawasan Bea Cukai, Apa Saja?

Selasa, 22 September 2026 | 21:51

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Jangan Omon-omon, Pelaksanaan MBG Harus Dipersempit ke Daerah 3T

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Raja Juli Sepi, Muncul Nusron

Selasa, 22 September 2026 | 21:12

Pakai Amine System, SP-ABG Pertamina Turunkan CO2 pada Gas jadi 5%

Selasa, 22 September 2026 | 21:07

Selebgram Jule Hanya Pemakai Etomidate, Bukan Pengedar

Selasa, 22 September 2026 | 20:54

Wacana Pencalonan Presiden-Wapres Cukup Didukung Dua Fraksi Ingkari Putusan MK

Selasa, 22 September 2026 | 20:36

KPK Kembali Sita Mobil Vinna Ledy Anggraheni Hasil Pemberian Pengusaha

Selasa, 22 September 2026 | 20:18

Swing Voters dan Pilkades Bekasi 2026

Selasa, 22 September 2026 | 19:59

Selengkapnya