Berita

Ilustrasi gas industri. (Foto: Inpro Energi)

Bisnis

Harga Gas Naik, Ribuan Tenaga Kerja di Batam Terancam Di-PHK

SELASA, 20 JANUARI 2026 | 02:55 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Lonjakan harga gas industri di Batam dinilai sebagai ancaman serius terhadap keberlangsungan ekonomi dan stabilitas tenaga kerja. 

Pemuda ICMI Kepulauan Riau memperingatkan, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa koreksi kebijakan, maka risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) dan hengkangnya industri dari Batam sulit dihindari.

Ketua Pemuda ICMI Kepulauan Riau, Andriansyah Sinaga, menegaskan bahwa kenaikan harga gas industri yang melonjak tajam sejak pertengahan Januari ini menunjukkan lemahnya keberpihakan dalam kebijakan energi. Terutama terhadap kawasan industri strategis nasional seperti Batam.


“Batam dibangun sebagai kawasan industri unggulan. Tapi ketika harga gas melonjak dan tidak kompetitif, maka yang terancam bukan hanya industri, tetapi juga ribuan tenaga kerja,” ujar Andriansyah dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin malam, 19 Januari 2026.

Menurutnya, lonjakan harga gas secara langsung meningkatkan biaya produksi dan menekan daya saing industri Batam dibandingkan kawasan industri di negara tetangga. Dalam jangka menengah, kondisi ini berpotensi mendorong relokasi usaha, pengurangan jam kerja, hingga PHK.

Pemuda ICMI Kepri menilai pemerintah pusat dan daerah tidak boleh bersikap pasif. Kementerian ESDM, BP Batam, serta Pemerintah Daerah didesak segera melakukan evaluasi menyeluruh dan transparan terhadap kebijakan harga gas industri di Batam.

“Jika Batam diperlakukan sama dengan daerah non-industri, maka keunggulan kompetitif Batam akan hilang. Ini bukan sekadar isu energi, tetapi isu keberlangsungan ekonomi daerah dan perlindungan tenaga kerja,” tegasnya.

Pemuda ICMI Kepri mengingatkan bahwa pembiaran terhadap lonjakan harga gas dapat memperburuk tingkat pengangguran, ketimpangan sosial, dan hubungan industrial di Batam.

“Kami meminta pemerintah tidak menunggu sampai industri tutup dan PHK terjadi. Kebijakan energi harus berpihak pada rakyat dan pekerja, bukan justru menambah beban baru,” pungkas Andriansyah.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Wall Street Variatif, Nasdaq Naik Ditopang Saham AI

Rabu, 23 September 2026 | 08:21

Kejagung Garap Lima Saksi di Kasus Korupsi MBG, Ada Pegawai SPPG Karawang

Rabu, 23 September 2026 | 08:06

Emas Gagal Bersinar, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Ketat dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 23 September 2026 | 07:41

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

Rabu, 23 September 2026 | 07:23

Bursa Eropa Beragam: Dorongan Sektor Teknologi Imbangi Tekanan Sektor Keuangan

Rabu, 23 September 2026 | 07:07

Ruang Amal Indonesia-IFG Life-Kemenko PM Hadirkan Program bagi Ojol Tunarungu

Rabu, 23 September 2026 | 06:40

Sering Kebakaran, Gedung Wajib Miliki Alat Deteksi Dini

Rabu, 23 September 2026 | 06:28

MUI Minta Pelaku Usaha Bersiap Hadapi Wajib Halal 18 Oktober

Rabu, 23 September 2026 | 06:18

Kursi Gibran Goyang

Rabu, 23 September 2026 | 06:03

Dua Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi

Rabu, 23 September 2026 | 05:45

Selengkapnya