Berita

Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Politik

SBY Wanti-wanti Ancaman Perang Dunia Ketiga

SENIN, 19 JANUARI 2026 | 10:45 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku diliputi kecemasan serius terhadap arah perkembangan dunia dalam beberapa tahun terakhir, khususnya dinamika global yang kian memanas dalam bulan-bulan belakangan. 

Kekhawatiran itu muncul dari pengamatannya yang panjang atas geopolitik internasional, perdamaian dunia, serta sejarah peperangan lintas abad.

SBY menyatakan situasi global saat ini memiliki banyak kemiripan dengan kondisi dunia menjelang Perang Dunia Pertama dan Kedua. 


Ia menilai tanda-tanda menuju konflik besar semakin nyata, mulai dari munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya blok-blok persekutuan negara yang saling berhadapan, hingga pembangunan kekuatan militer secara masif yang dibarengi penyiapan mesin ekonomi perang.

“Terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga," katanya lewat akun X resminya, Senin, 19 Januari 2026.

Namun demikian, SBY menilai ruang dan waktu untuk mencegah perang besar tersebut semakin sempit dari hari ke hari. Ia mengingatkan bahwa sejarah mencatat, meski tanda-tanda perang besar sudah tampak jelas, sering kali dunia gagal mengambil langkah nyata untuk mencegahnya.

"Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit," ungkapnya.

SBY juga menyoroti ancaman perang nuklir yang dapat membawa kehancuran total bagi umat manusia. Ia mengutip berbagai studi yang memperkirakan korban jiwa bisa mencapai lebih dari lima miliar orang jika perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir.

“Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia,” tegasnya.

Meski menaruh harapan pada doa, SBY menekankan bahwa doa saja tidak cukup tanpa upaya nyata dari manusia dan bangsa-bangsa di dunia. Menurutnya, bahkan doa miliaran manusia tidak akan bermakna jika tidak disertai tindakan kolektif untuk menyelamatkan dunia.

“Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya,” ujarnya.

Dalam konteks itu, SBY mengutip pemikiran Edmund Burke dan Albert Einstein yang menegaskan bahwa kehancuran dunia bukan semata akibat ulah orang jahat, melainkan karena orang-orang baik memilih diam dan membiarkan kejahatan terjadi.

Sebagai langkah konkret, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif menggelar Sidang Umum Darurat (Emergency UN General Assembly) yang mempertemukan para pemimpin dunia. Agenda utama sidang tersebut, menurutnya, harus difokuskan pada langkah-langkah nyata mencegah krisis global berskala besar, termasuk kemungkinan pecahnya perang dunia baru.

“Saya tahu, saat ini PBB boleh dikata tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan doing nothing,” kata SBY.

Ia menyadari seruan tersebut mungkin saja tidak langsung diindahkan. Namun, SBY optimistis langkah itu dapat menjadi awal tumbuhnya kesadaran dan kehendak kolektif bangsa-bangsa dunia untuk menyelamatkan peradaban manusia.

“ Ingat, if there is a will, there is a way,” pungkas SBY.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya