Berita

Ketua DPP PKS Bidang Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa, Aang Kunaif. (Tim Media PKS)

Politik

Aktivis Kampus Didorong Masuk Parpol untuk Perluas Pengabdian

SENIN, 19 JANUARI 2026 | 08:51 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Para aktivis kampus didorong melanjutkan jalan pengabdian setelah lulus dari perguruan tinggi. 

Menurut Ketua DPP PKS Bidang Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa, Aang Kunaif, pengabdian aktivis tidak boleh berhenti di lingkungan kampus, melainkan harus berlanjut melalui penguatan kerja-kerja sosial dan kontribusi kebangsaan.

“Setelah menyelesaikan studi di kampus, para aktivis dapat bergabung dengan partai politik. Peta jalan pengabdian aktivis itu jelas, dari kampus menuju masyarakat dan bangsa,” ujar Aang, Senin, 19 Januari 2026.


Ia menyarankan aktivis masuk partai politik karena dapat memberikan dua manfaat sekaligus, yakni memperluas ruang pengabdian kepada masyarakat serta mematangkan kapasitas kepemimpinan. 

Namun, Aang menyadari tidak semua partai politik mampu menyediakan manfaat tersebut. Pengabdian kepada masyarakat hanya dapat dilakukan bila partai politik menjalankan politik pelayanan. 

Sementara itu, pematangan kapasitas kepemimpinan hanya bisa diperoleh jika partai politik menjadi ekosistem bertumbuh yang didukung kaderisasi berjenjang dan berkelanjutan.

“Kaderisasi bagi anggota partai politik dapat menguatkan idealisme sekaligus mengasah kapabilitas. Para mantan aktivis mahasiswa yang serius ingin bertumbuh pasti membutuhkan ekosistem yang tepat, bukan hanya semangat,” ungkapnya.

Aang juga menegaskan bahwa politik tidak semestinya selalu dipahami secara negatif. Ia menyebut politik sebagai alat yang nilainya ditentukan oleh orientasi dan praktik para pelakunya. 

“Politik itu tidak kotor, politik hanyalah alat. Sebagai alat, politik bisa dipakai untuk melayani atau sekadar untuk transaksi dan pencitraan,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong para aktivis yang jenuh terhadap praktik politik transaksional dan pencitraan untuk mengambil sikap yang lebih konstruktif dengan mencari ruang politik yang sehat atau membangun kultur politik pelayanan di mana pun mereka berada.

“Jika para aktivis muak dengan politik transaksional dan politik pencitraan, mereka bisa mencari partai yang menerapkan politik pelayanan. Atau, jalankan politik pelayanan di partai mana pun mereka berlabuh. Bahkan, mereka juga dapat mendirikan partai politik sendiri sesuai idealisme dan visi yang diperjuangkan,” pungkasnya.



Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya