Berita

Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Dr. Muhammad Aras Prabowo (kedua dari kiri). (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Nusantara

Akademisi:

Mahasiswa Harus jadi Subjek Revolusi Digital, Bukan Hanya Penonton

SENIN, 19 JANUARI 2026 | 04:47 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Revolusi digital tidak boleh dipahami semata sebagai perkembangan teknologi, melainkan sebagai perubahan cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. 

Pesan ini mengemuka dalam kegiatan bertajuk “Mahasiswa dan Revolusi Digital: Menjawab Tantangan, Meraih Peluang” yang diselenggarakan oleh Yayasan Rembuk Indonesia Raya bersama PKBM Ristek Nusantara Jaya, Sabtu, 17 Januari 2026.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, salah satunya akademisi dan Kaprodi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Dr. Muhammad Aras Prabowo.


Dalam pemaparannya, Dr. Aras menekankan bahwa mahasiswa harus menempatkan diri sebagai aktor utama dalam arus perubahan digital. 

“Revolusi digital bukan takdir yang datang begitu saja. Ini menuntut kesiapan sumber daya manusia, terutama mahasiswa, untuk menjadi subjek perubahan, bukan korban atau penonton,” tegas Aras dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 18 Januari 2026.

Menurutnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya soal penguasaan teknologi, tetapi kemampuan berpikir kritis dan etis di tengah banjir informasi. 

“Digitalisasi tanpa nalar kritis hanya akan melahirkan generasi yang cepat mengakses, tetapi lambat memahami,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diiringi dengan integritas dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks akademik dan dunia kerja, kemampuan digital perlu dikombinasikan dengan nilai kejujuran dan kepekaan sosial. 

“Teknologi itu netral, yang menentukan arah baik-buruknya adalah manusia yang menggunakannya. Karena itu, karakter dan etika harus menjadi fondasi utama mahasiswa di era digital,” jelasnya.

Lebih jauh, Aras mendorong mahasiswa agar tidak sekadar menjadi pengguna platform digital, tetapi mampu menciptakan nilai tambah melalui inovasi. 

“Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman, memanfaatkan teknologi untuk riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. Di situlah peluang besar masa depan berada,” tambahnya.

Sesi tanya jawab yang dimoderatori Fahrul Bagenda berlangsung dinamis, menunjukkan antusiasme peserta dalam merespons isu-isu seputar kecerdasan buatan, ekonomi digital, hingga tantangan dunia kerja pasca-kampus. Acara kemudian ditutup dengan penyerahan plakat dan sesi foto bersama.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap mahasiswa tidak hanya memahami konsep revolusi digital secara teoritis, tetapi juga mampu menerjemahkannya dalam tindakan nyata. 

“Masa depan bangsa sangat ditentukan oleh sejauh mana mahasiswa hari ini mampu membaca zaman dan menyiapkan diri secara cerdas dan bermartabat,” pungkas Aras.


Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya