Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Global

Eskalasi Konflik AS-Iran Berpotensi Guncang Ekonomi Global

SENIN, 19 JANUARI 2026 | 02:25 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Memanasnya kondisi hubungan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir, memunculkan kekhawatiran banyak pihak. 

Pengamat geopolitik dari Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI), Surya Wiranto, eskalasi konflik antara AS dan Iran bukan hanya akan menghancurkan stabilitas regional, tetapi juga berisiko mengguncang ekonomi global.

“Diplomasi intensif dibutuhkan segera untuk meredakan ketegangan sebelum mencapai titik kritis,” ujar Surya dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 18 Januari 2026.  


Menurut dia, eskalasi itu terus memanas yang dipertontonkan oleh kedua pihak. 

“Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat hingga level yang mengkhawatirkan, dengan persiapan militer dan retorika perang yang semakin keras dari kedua belah pihak,” jelasnya. 

Ia menyebut ada kabar yang mengungkapkan bahwa AS mulai meninjau opsi-opsi strategis untuk melakukan tindakan terhadap Iran yang kemungkinan diawali dengan pemberian sanksi hingga aksi militer langsung. 

Di sisi lain, pejabat senior militer AS mengonfirmasi bahwa pasukan membutuhkan waktu tambahan untuk konsolidasi alutsista dan memperkuat pertahanan, sebagai antisipasi terhadap serangan balasan Iran yang potensial.

Iran sendiri tidak tinggal diam. Melalui Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, Teheran mengeluarkan peringatan keras bahwa serangan AS akan dibalas dengan menargetkan pangkalan militer Amerika di kawasan dan wilayah Israel, yang mereka sebut sebagai “target sah”. Pernyataan ini langsung meningkatkan tensi di Timur Tengah.

Israel sebagai sekutu utama AS, dilaporkan telah meningkatkan status siaga militernya, meski belum ada indikasi langsung akan intervensi. 

“Situasi ini menciptakan dinamika yang sangat volatile, di mana kesalahan perhitungan atau provokasi kecil berpotensi memicu konflik terbuka yang lebih luas,” ungkapnya.

“Dengan kedua pihak saling menunjukkan kesiapan tempur dan garis merah yang tegas, komunitas internasional mengawasi dengan cemas,” pungkas Surya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya