Berita

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono. (Foto: YouTube Garuda TV)

Politik

Diaz Hendropriyono Singgung Kelalaian Struktural dalam bencana Sumatera

SENIN, 19 JANUARI 2026 | 00:20 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dinilai bukan semata akibat cuaca ekstrem, melainkan akumulasi panjang kelalaian struktural dalam pengelolaan lingkungan dan lemahnya penegakan hukum. 

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono dalam podcast Orang Penting dikutip dalam kanal YouTube Garuda TV, Minggu malam, 18 Januari 2026.

“Anomali cuaca memang menjadi pemicu awal, namun dampaknya menjadi luar biasa karena dipercepat oleh pemanasan global dan perubahan bentang alam,” kata Diaz.


Curah hujan ekstrem tercatat mencapai sekitar 250 milimeter per hari di Aceh, 200 milimeter di Sumatera Utara, serta 150 hingga 200 milimeter per hari di Sumatera Barat.

Menurut Diaz, fenomena badai tropis di sekitar khatulistiwa yang jarang terjadi tersebut dipicu oleh peningkatan suhu permukaan laut akibat global warming. 

“Pemanasan ini membuat badai semakin cepat, besar, dan destruktif, terutama di wilayah dengan topografi curam seperti Sumatera yang berbentuk menyerupai huruf V dan memiliki kemiringan lebih dari 40 persen,” jelasnya. 

Ia menyebut kondisi itu menyebabkan air hujan langsung mengalir deras ke bawah tanpa banyak tertahan.

"Ini pertama kalinya terjadi semasif ini sepanjang kita hidup," tegas Diaz.

Faktor alam, tambahnya, diperburuk oleh penurunan tutupan lahan dan alih fungsi kawasan. 

Namun, Diaz menilai kondisi tersebut seharusnya dapat dicegah jika mitigasi perubahan iklim dan perlindungan lingkungan dilakukan lebih awal dan konsisten. 

"Bisa dicegah kalau kita bisa memperlambat, memitigasi global warming dari dulu," ucap mantan Ketua Umum PKPI ini.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peningkatan kesadaran publik, pengawasan ketat, serta penegakan hukum tanpa toleransi terhadap perusakan lingkungan.


Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya