Berita

Hendarsam Marantoko. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Dari Piring Makan ke Benteng Pertahanan Bangsa

MINGGU, 18 JANUARI 2026 | 22:43 WIB

DI tengah eskalasi konflik global, perang Ukraina, Timur Tengah, bahkan sampai Venezuela dan rapuhnya rantai pasok pangan dunia, ancaman terhadap Indonesia tidak selalu datang dalam bentuk senjata. 

Bagi negara kepulauan dengan ketergantungan logistik lintas wilayah, krisis pangan bisa menjadi bentuk perang paling senyap namun paling mematikan. 

Di titik inilah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menemukan makna strategisnya, bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan bagian dari arsitektur pertahanan semesta non-militer.


Dalam buku Paradoks Indonesia, Prabowo Subianto menegaskan bahwa bangsa besar bisa runtuh bukan karena kekurangan senjata, tetapi karena rakyatnya lemah secara fisik, mental, dan ekonomi. 

Pandangan ini menjadi fondasi cara berpikir pertahanan yang holistik bahwa kekuatan negara bertumpu pada kualitas manusia dan daya tahan sistemnya.

MBG, dalam konteks ini, adalah investasi sumber daya manusia (SDM) jangka panjang. Anak-anak dengan gizi cukup hari ini adalah tenaga kerja, prajurit, ilmuwan, dan warga negara tangguh di masa depan. Tanpa fondasi gizi, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban strategis.

Di sisi lain, MBG menciptakan tenaga kerja baru melalui dapur-dapur pangan yang tersebar di berbagai daerah. 

Dapur MBG berfungsi sebagai simpul ekonomi lokal, menyerap tenaga kerja, menggerakkan UMKM pangan, dan memperkuat ekonomi rakyat. Ini sejalan dengan gagasan Prabowo bahwa kemandirian bangsa harus dibangun dari produksi nasional, bukan impor permanen.

Lebih strategis lagi, MBG membangun ekosistem rantai pasok pangan berbasis wilayah. Prinsip pasokan dari sekitar dapur mendorong setiap daerah dan pulau untuk berdikari. 

Kalimantan, misalnya, harus mampu memenuhi kebutuhan beras, telur, dan dagingnya sendiri. Dalam logika perang non-senjata, ketahanan logistik dan pangan adalah garis pertahanan pertama.

Dalam berbagai pidatonya, Prabowo berulang kali mengingatkan bahwa perang modern sering dimenangkan tanpa tembakan, cukup dengan memutus suplai pangan dan energi. Dengan ketahanan pangan regional yang kuat, Indonesia tidak mudah diguncang konflik global.

Dengan demikian, MBG bukan hanya soal makan gratis, tetapi tentang menjaga bangsa tetap hidup, stabil, dan berdaulat.

Hendarsam Marantoko
Direktur Eksekutif Garuda Institute

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya