Berita

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (Foto Dokumen RMOL)

Politik

Pendiri Jaringan Nusantara: SBY Lawan Fitnah demi Jaga Kebenaran, Bukan Anti Kritik

SABTU, 17 JANUARI 2026 | 15:03 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pendiri Jaringan Nusantara, Aam S, menegaskan bahwa sikap tegas Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam merespons tuduhan miring bukanlah bentuk anti kritik. Sebaliknya, hal tersebut adalah upaya menjaga kebenaran publik dari bahaya fitnah yang kerap kabur batasannya di era media sosial.

Aam menjelaskan bahwa SBY sangat menghargai kritik sebagai elemen vital demokrasi untuk mengoreksi kebijakan. Namun, fitnah yang merupakan tuduhan tanpa dasar harus dilawan agar tidak menyesatkan masyarakat.

"SBY tidak anti kritik. Sejak menjabat presiden, beliau terbiasa dikritik. Tapi yang beliau lawan adalah fitnah. Karena kalau fitnah dibiarkan, tidak diluruskan, maka rakyat bisa menganggap fitnah itu sebagai kebenaran,” ujar Aam, Sabtu 17 Januari 2026.


Menurut Aam, langkah hukum yang ditempuh SBY merupakan tanggung jawab moral seorang negarawan. Jika didiamkan, kebohongan publik berisiko dianggap sebagai fakta sejarah yang merusak integritas.

“Kritik itu sehat. Tapi fitnah itu berbahaya. Fitnah bukan hanya menyerang individu, tapi juga merusak kepercayaan publik dan mencederai nalar demokrasi,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa dalam politik, pembiaran terhadap narasi palsu sangat fatal dampaknya.
“Dalam politik, persepsi sering kali lebih kuat daripada fakta. Kalau fitnah tidak dilawan, publik bisa mengira itu benar. Dan ketika sudah dianggap benar, sangat sulit meluruskan,” kata Aam.

Aam mengingatkan bahwa selama dua periode memimpin, SBY dikenal santun dan menjamin kebebasan pers. Perlawanan terhadap fitnah justru dilakukan demi merawat demokrasi agar tidak diracuni oleh kebohongan.

“SBY itu terbiasa dikritik sejak awal menjabat. Tapi beliau juga percaya bahwa demokrasi harus dijaga dengan kejujuran. Fitnah yang disebar tanpa tanggung jawab adalah bentuk pembusukan demokrasi,” jelasnya.

Menutup pernyataannya, Aam mengajak masyarakat dan generasi muda untuk lebih kritis memverifikasi informasi dan membedakan antara kritik konstruktif dengan opini menyesatkan.

“Demokrasi tidak akan sehat kalau ruang publik dipenuhi kebohongan. Melawan fitnah bukan berarti anti kritik, justru itu bagian dari menjaga kualitas demokrasi,” pungkas Aam.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya