Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Harga Emas Terkoreksi di Tengah Ambil Untung dan Redanya Tensi Geopolitik

SABTU, 17 JANUARI 2026 | 07:45 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, harga emas global akhirnya terkoreksi pada penutupan Jumat 16 Januari 2026. 

Harga emas spot turun 0,5 persen ke level 4.592,29 per ons, menyusul aksi ambil untung (profit taking) oleh para investor setelah reli panjang selama beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, emas spot sempat menyentuh level terendah di 4.536,49 Dolar AS. 

Sedangkan kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup turun 0,6 persen ke 4.595,40 Dolar AS.


Analis Marex, Edward Meir, menjelaskan bahwa pelemahan ini merupakan hal yang wajar di pasar komoditas. 

Selain aksi jual, meredanya ketegangan di Timur Tengah turut menghapus "premi risiko" yang sebelumnya melambungkan harga emas. Menurunnya eskalasi protes di Iran serta langkah mediasi oleh Presiden Rusia Vladimir Putin membuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) sedikit memudar.

Meski demikian, emas masih berada dalam tren positif dengan kenaikan mingguan sekitar 1,9 persen. Di sisi ekonomi makro, kebijakan Federal Reserve yang diperkirakan baru akan memangkas suku bunga pada Juni mendatang turut menjadi perhatian pasar. 

Suku bunga rendah biasanya menjadi angin segar bagi emas, bahkan Meir memprediksi harga emas masih berpeluang menembus 5.000 Dolar AS tahun ini meskipun akan diwarnai koreksi besar.

Kondisi serupa terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak merosot 2,9 persen ke level 89,65 Dolar AS per ons setelah mencetak rekor tertinggi di sesi sebelumnya. 

JP Morgan memperingatkan adanya risiko koreksi tajam akibat melemahnya permintaan industri dan pengetatan perdagangan di China.

Platinum dan Paladium turut mengalami pelemahan masing-masing sebesar 3,3 persen dan 0,6 persen.

Di tengah dinamika ini, perhatian pasar juga tertuju pada hubungan dagang AS dan Taiwan yang baru saja menyepakati penurunan tarif semikonduktor. Langkah ini dianggap strategis bagi investasi teknologi AS, meski berisiko memicu ketegangan baru dengan China yang dapat kembali memengaruhi sentimen pasar di masa depan.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya