Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Tekno

China Desak Perusahaan Lokal Setop Gunakan Software Buatan AS dan Israel

JUMAT, 16 JANUARI 2026 | 14:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah China dilaporkan memerintahkan perusahaan-perusahaan dalam negeri untuk menghentikan penggunaan perangkat lunak keamanan siber buatan Amerika Serikat (AS) dan Israel. 

Tiga sumber Reuters yang mengetahui keputusan tersebut mengatakan, kebijakan ini diambil karena alasan keamanan nasional.

Larangan ini mencakup lebih dari selusin perusahaan besar, antara lain Palo Alto Networks, CrowdStrike, Fortinet, VMware (milik Broadcom), Check Point, hingga Mandiant dan Wiz yang dimiliki Alphabet. Beberapa perusahaan Israel lain seperti CyberArk, Orca Security, dan Cato Networks juga masuk daftar hitam.


Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dagang dan teknologi antara China dan AS, ketika kedua negara bersaing ketat dalam penguasaan teknologi strategis. Beijing semakin berupaya menggantikan teknologi Barat dengan produk buatan dalam negeri, terutama di sektor sensitif seperti keamanan siber.

Otoritas China khawatir perangkat lunak asing tersebut dapat mengumpulkan dan mengirim data rahasia ke luar negeri, sehingga berpotensi dimanfaatkan oleh kekuatan asing. Namun, regulator utama seperti Cyberspace Administration of China dan Kementerian Perindustrian belum memberikan komentar resmi.

Sejumlah perusahaan yang disebut dalam larangan ini menyatakan dampaknya sangat terbatas atau bahkan tidak ada, karena mereka tidak beroperasi atau tidak memiliki klien di China. Meski begitu, pasar tetap bereaksi: saham Broadcom turun lebih dari 4 persen, Fortinet dan Rapid7 ikut melemah, sementara saham Palo Alto relatif stabil.

Kebijakan ini juga mencerminkan kecurigaan lama China terhadap vendor keamanan asing, yang dinilai dekat dengan lembaga pertahanan negara asalnya dan memiliki akses luas ke jaringan digital. Sebagai upaya melindungi serangan spionase dan sabotase digital, China kini mendorong penggunaan penyedia lokal seperti 360 Security Technology dan Neusoft.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Pendaftaran MagangHub Angkatan II Batch 1 Masih Dibuka, Begini Caranya

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:59

Sesat Pikir Program MBG

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:45

Demi Lunasi Utang Pinjol, Seorang Wanita Hampir Disetubuhi Debt Collector

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:18

Cinta dan Benci Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:59

Saatnya Generasi Milenial Tampil Tentukan Nasib Bangsa di Pemilu 2029

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:40

Sumpah Sudaryono dan Donny

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:20

49 Startup Binaan IPB University Didorong jadi Produk Unggulan Nasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:50

Prabowo-Anies Flagships

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:25

TelkomGroup Perkuat Peran Penggiat Budaya Lewat CAMG 2026

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:59

Negara OKI Didesak Bantu Iran Hadapi Agresi AS dan Israel

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:45

Selengkapnya