Berita

Guru Besar Politik dari Universitas Nasional (UNAS), Prof. Lili Romli. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)

Politik

Guru Besar UNAS Kembali Tawarkan Gagasan Pilkada Asimetris

JUMAT, 16 JANUARI 2026 | 11:02 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Debat panjang antara sistem Pilkada langsung dan tidak langsung akhirnya menemukan titik terang. Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS), Prof. Lili Romli, kembali menyodorkan gagasan segar yaitu Pilkada Asimetris.

Prof. Lili Romli menegaskan, Pilkada Asimetris sebagai jalan tengah di tengah perdebatan antara pilkada langsung dan pilkada tidak langsung melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Bagi Prof. Romli, terjebak dalam perdebatan antara dua kutub tersebut hanya akan membuang waktu, karena keduanya memiliki landasan hukum dan kelemahan masing-masing. Sebagai solusinya, ia menawarkan skema "bagi peran".


"Saya sudah lama mengusulkan jalan tengah ini. Dengan Pilkada Asimetris, ada daerah yang tetap memilih langsung, namun ada juga yang melalui DPRD," jelas Prof. Romli kepada RMOL, Jumat, 16 Januari 2026.

Ia menjelaskan, model Pilkada Asimetris tidak serta-merta menghilangkan hak rakyat untuk memilih pemimpin daerahnya secara langsung.

Namun demikian, penentuan daerah yang dapat menyelenggarakan pilkada melalui DPRD harus didasarkan pada terpenuhinya sejumlah indikator yang relevan.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu merinci, pada aspek politik perlu diperhatikan posisi strategis provinsi yang dipimpin seorang gubernur sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat.

Sementara itu, untuk daerah tingkat dua seperti kabupaten dan kota, indikator dapat dilihat dari berbagai aspek yang memengaruhi pembangunan daerah serta kemandirian ekonomi masyarakat.

“Mungkin untuk gubernur dipertimbangkan pilkada tidak langsung. Demikian juga untuk daerah-daerah tertinggal yang secara ekonomi masih belum mandiri, dapat dipertimbangkan pilkada melalui DPRD,” tuturnya.

Selain aspek politik dan ekonomi, Prof. Romli menekankan pentingnya mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya setempat.

“Seperti di wilayah Papua, di mana sistem noken masih berlangsung, pilkada melalui DPRD perlu juga dikaji. Sama halnya dengan konsep otonomi daerah yang ada yang bersifat simetris dan asimetris,” katanya.

Oleh karena itu, Prof. Romli menilai gagasan Pilkada Asimetris layak dikaji secara serius sebagai alternatif jalan tengah dalam sistem pemilihan kepala daerah di Indonesia.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya