Berita

Rieke Diah Pitaloka. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

Rieke Diah Pitaloka Kritik Komnas HAM Terkait Kasus Child Grooming

KAMIS, 15 JANUARI 2026 | 13:09 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, melontarkan kritik keras terhadap sikap Komnas HAM dan Komnas Perempuan yang dinilai belum memberikan respons serius terhadap maraknya praktik child grooming di Indonesia.

Isu ini kembali mencuat setelah pengakuan publik dari aktris Aurélie Moeremans melalui e-book berjudul "Broken Strings, Fragments of a Stolen Youth". Dalam karya tersebut, Aurélie mengungkap pengalaman kelamnya menjadi korban child grooming, sebuah fenomena yang menurut Rieke masih dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia namun memiliki dampak yang menghancurkan.

Dalam rapat kerja di Senayan, Kamis 15 Januari, Rieke menegaskan bahwa child grooming bukan sekadar tindak pidana biasa, melainkan modus operandi yang sistematis. Pelaku sengaja membangun ikatan emosional dan menciptakan ketergantungan pada korban sebelum akhirnya melakukan eksploitasi atau kekerasan seksual.


"Ini adalah sesuatu yang dalam tanda kutip tabu bagi Indonesia selama ini. Padahal, ini adalah alarm keras bagi negara," ujar politikus PDI Perjuangan tersebut.

Rieke menyayangkan sikap diam lembaga negara yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam perlindungan hak asasi dan perempuan. Ia menilai, ketiadaan suara lantang dari Komnas HAM maupun Komnas Perempuan menunjukkan lemahnya proteksi negara terhadap ancaman masa depan anak-anak.

"Ketika negara diam, ketika kita yang berada di posisi yang seharusnya bersuara justru diam, di mana proteksinya? Saya belum mendengar ada suara utuh dan serius dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan terhadap kasus ini," tegas Rieke.

Menutup pernyataannya dengan nada emosional, Rieke mengingatkan para pimpinan rapat bahwa isu ini bersifat sangat personal bagi banyak keluarga di Indonesia. Ia menekankan bahwa jika tidak ada tindakan tegas, siapa pun bisa menjadi korban.

"Maaf Pimpinan, saya agak emosional, karena ini bisa terjadi pada anak-anak kita, pada masa depan kita," pungkasnya.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya