Berita

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Purbaya Incar Puluhan Perusahaan Baja Pengemplang Pajak

KAMIS, 15 JANUARI 2026 | 09:13 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tengah bersiap melancarkan aksi besar-besaran terhadap puluhan perusahaan baja raksasa yang kedapatan mangkir dari kewajiban Pajak Pertambahan Nilai (PPN). 

Menurutnya, Kementerian Keuangan telah mengunci puluhan nama perusahaan, baik modal asing maupun lokal, yang dalam waktu dekat akan segera disidak.

“Baja itu yang terdeteksi ada 40 perusahaan besar yang akan kita sidak dalam waktu singkat,” tegas Purbaya saat memberikan keterangan di Jakarta Selatan, Rabu 14 Januari 2026. 


Purbaya mengakui telah mencium adanya keganjilan dalam kasus ini. Menurutnya, perusahaan dengan skala sebesar itu seharusnya sangat mudah terpantau oleh sistem pengawasan pajak. Ia menduga ada oknum di internal kementeriannya yang sengaja "menutup mata" sehingga praktik lancung ini bisa berjalan mulus.

“Itu bukan campur-campur. Ada yang China, ada yang Indonesia juga. Nah, itu teka-teki saya juga. Harusnya kan kalau perusahaan besar kan gampang melihatnya. Berarti orang saya ada yang terlibat, nanti kita lihat ya,” ungkapnya. 

Praktik penggelapan ini tergolong rapi dan terencana. Para pengusaha nakal tersebut diduga menggunakan modus manipulasi data administratif, termasuk aksi "pembelian KTP" milik masyarakat untuk memalsukan daftar karyawan guna menghindari tagihan PPN.

Dampak dari kecurangan ini sangat fatal bagi kas negara. Sebelumnya, Purbaya membeberkan bahwa satu perusahaan saja bisa merugikan negara hingga angka yang fantastis.

“Potensinya, kata orang yang sudah insaf itu, setahun bisa Rp4 triliun lebih, jadi besar itu, banyak perusahaan,” jelas Purbaya di kantor Kemenkeu pekan lalu.

Meski daftar nama perusahaan sudah berada di kantongnya, Menkeu memilih untuk berhati-hati dalam menentukan waktu eksekusi. Strategi penggerebekan serentak tengah disusun agar penindakan hukum berjalan efektif dan kerugian negara dapat dipulihkan secara maksimal.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Digiring ke Bareskrim, 10 Tersangka Sabu Blue Ice 1,2 Ton Terancam Hukuman Mati

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

KPK Bongkar Kejanggalan Status Bima-Richard dan Proyek Pengadaan BNPB

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

Menlu RI dan Singapura Bertemu, Bahas Penindakan Korporasi Pelaku Karhutla

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:47

Lula dan Prabowo dalam Angka juga Cerita

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:30

Sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Tonggak Persatuan Bangsa

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:22

Dari Vietnam, Gus Lilur Desak KPK Usut Dugaan Politik Uang Muktamar NU

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:21

BRIN Percepat Uji Klinis 19 Kandidat Obat Herbal Menuju Fitofarmaka

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:16

Koperasi Jadi Motor Ekonomi Desa di Era Prabowo-Gibran

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:12

BCA Catat Laba Bersih Rp45,2 Triliun, Naik 4,2 Persen

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:05

Daftar Peringkat Ballon d'Or 2026: Harry Kane Juara, Messi Posisi Kelima

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya